KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp 200 miliar. Aksi korporasi ini bakal dilaksanakan dalam kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/6/2026), periode
buyback dijadwalkan berlangsung mulai 1 Juli – 1 September 2026. Dana untuk pelaksanaan
buyback akan berasal dari saldo laba ditahan perusahaan.
Manajemen Allo Bank menyebut langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja fundamental perusahaan, sekaligus mempertahankan kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap prospek bisnis bank.
Baca Juga: SMI Siap Dukung Penerbitan Obligasi Daerah dan Sukuk Pemda "Perseroan berencana menyimpan saham yang telah dibeli kembali sebagai saham tresuri sesuai ketentuan yang berlaku," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/6/2026). Allo Bank menyebut pelaksanaan
buyback ini tak bakal berdampak material terhadap kondisi keuangan maupun operasional perusahaan. Sebab, alokasi dana Rp 200 miliar hanya setara sekitar 1,35% dari total aset perseroan, sehingga likuiditas dan modal kerja dinilai tetap memadai untuk mendukung kegiatan usaha. Dalam simulasi proforma berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, total aset diperkirakan turun dari Rp 14,79 triliun menjadi Rp 14,59 triliun, sedangkan ekuitas berkurang dari Rp 7,53 triliun menjadi Rp 7,33 triliun setelah
buyback dilaksanakan. Laba bersih juga diproyeksikan turun tipis dari Rp 104,06 miliar menjadi Rp 101,96 miliar. Dampaknya, laba per saham (
earnings per share/EPS) diperkirakan turun dari Rp 19,21 menjadi Rp 18,99.
Baca Juga: Gap Tingkat Inklusi dan Literasi Keuangan Syariah Begitu Lebar, Ini Penjelasan OJK Meski demikian, tingkat pengembalian ekuitas (
return on equity/ROE) justru diproyeksikan naik tipis dari 5,62% menjadi 5,66%, sementara
return on asset (ROA) hanya berubah dari 3,50% menjadi 3,48%. Perusahaan juga memperkirakan rasio kecukupan modal (
capital adequacy ratio/CAR) turun sekitar 1,95 poin persentase, dari 72,45% menjadi sekitar 70,50% apabila seluruh dana
buyback digunakan. Kendati demikian, manajemen menegaskan posisi permodalan Allo Bank masih sangat kuat dan pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu likuiditas maupun rencana pengembangan usaha perseroan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News