KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Allo Bank Indonesia Tbk terus memperkuat dana murah atau current account savings account (CASA) dengan mendorong peningkatan aktivitas transaksi nasabah. Strategi ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap dana mahal sekaligus menjaga struktur pendanaan tetap sehat. Hingga Juni 2026, nominal CASA bank berkode saham
BBHI ini mencapai Rp 1,52 triliun atau sekitar 25% dari total dana pihak ketiga (DPK).
Baca Juga: CIMB Niaga Raup Laba Rp 3,4 Triliun pada Semester I-2026 Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, peningkatan CASA bakal didorong melalui kenaikan transaksi dan
engagement nasabah. Pihaknya ingin rekening nasabah semakin sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari transaksi QRIS, transfer, pembayaran tagihan, hingga berbagai kebutuhan transaksi lainnya. "Semakin tinggi aktivitas dan
engagement nasabah, semakin besar peluang terbentuknya dana operasional yang lebih
sticky dan berkelanjutan," ujar Destya kepada Kontan, Kamis (13/8/2026). Di segmen ritel, Allo Bank juga mendorong nasabah agar tak cuman menggunakan rekening sebagai sarana transaksi, tetapi juga sebagai bagian dari pengelolaan keuangan. Hal ini dilakukan melalui pengembangan produk seperti Allo Grow dan Allo Deposito. Sementara itu, di segmen korporasi, bank terus memperkuat hubungan dengan nasabah sekaligus memperluas penggunaan produk dan layanan. Dengan demikian, dana yang dihimpun diharapkan semakin granular dan memiliki tingkat engagement yang lebih tinggi. Destya bilang, strategi tersebut menjadi penting di tengah kondisi likuiditas dan persaingan pendanaan yang masih ketat. Allo Bank berupaya menjaga keseimbangan struktur pendanaan dari sisi produk maupun segmen nasabah.
Baca Juga: ROI Dana Pensiun Tertekan, Industri Dapen Masih Berharap Pulih di Semester II "Kami tidak ingin terlalu bergantung pada satu sumber pendanaan tertentu, sehingga deposito, tabungan, maupun giro masing-masing memiliki peran dalam mendukung kebutuhan likuiditas dan pertumbuhan bisnis bank," jelasnya.
Funding Korporasi Masih Dominan
Saat ini, Destya bilang, funding Allo Bank masih lebih banyak berasal dari nasabah korporasi dibandingkan ritel. Namun, menurutnya kondisi tersebut masih sesuai dengan karakteristik dan tahapan pertumbuhan bisnis perseroan. Ia menegaskan bahwa Allo Bank tak menargetkan perubahan komposisi funding secara cepat. Fokus bank adalah memastikan setiap segmen dapat tumbuh secara sehat dan memiliki
engagement yang semakin tinggi terhadap produk dan layanan Allo Bank. "Yang menjadi fokus kami bukan hanya mengubah komposisi secara cepat, tetapi memastikan setiap segmen dapat berkembang secara sehat," katanya. Dengan strategi tersebut, Allo Bank tidak menjadikan target CASA sebagai satu-satunya acuan dalam menentukan strategi pendanaan. Bank juga memperhatikan kualitas
funding mix, efisiensi biaya dana atau
cost of fund (CoF), serta keseimbangan antara pertumbuhan DPK dan kredit.
Baca Juga: Penyaluran KUR Tembus Rp169 Triliun, Bank Dorong UMKM Naik Kelas Untuk tahun ini, Allo Bank tetap optimistis kontribusi CASA dapat meningkat secara bertahap. Namun, peningkatan tersebut akan dikejar melalui pertumbuhan transaksi dan
engagement nasabah, bukan dengan strategi
pricing yang agresif. "Kami ingin membangun struktur pendanaan yang semakin sehat,
granular, dan berkelanjutan, sehingga dapat mendukung pertumbuhan Allo Bank sekaligus menjaga profitabilitas dalam jangka panjang," pungkas Destya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News