KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) terus memantau kualitas kredit di tengah ekspansi bisnis yang cukup agresif. Per Juni 2026, rasio kredit bermasalah (
non-performing loan/NPL) gross Allo Bank tercatat 1,73%, naik dibandingkan posisi Maret 2026 sekitar 1,6% maupun Juni 2025 sekitar 1,53%. Kendati begitu, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo memastikan kenaikan NPL tersebut masih berada dalam level yang dapat dikelola perseroan.
Baca Juga: Allo Bank Waspadai Kenaikan NPL Usai Lebaran Meski meningkat, posisi NPL Allo Bank masih lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NPL gross industri perbankan pada Juni 2026 mencapai 2,09%. Pun, kenaikan NPL tersebut terjadi bersamaan dengan pertumbuhan kredit yang cukup tinggi. Hingga akhir Juni 2026, kredit Allo Bank tumbuh 28% secara tahunan menjadi Rp 9,55 triliun. Destya bilang pertumbuhan tersebut berasal dari segmen Retail Banking maupun Wholesale Banking. Menurutnya, ekspansi portofolio yang signifikan tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko yang tetap prudent. “Yang menjadi fokus kami adalah memastikan pertumbuhan kredit tetap menghasilkan
risk-adjusted return yang sehat dan
sustainable,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (10/9/2026). Allo Bank tak mematok target numerik untuk NPL. Destya menyebut kualitas aset bakal sangat bergantung pada kondisi ekonomi, perilaku nasabah, serta dinamika masing-masing portofolio.
Baca Juga: Allo Bank (BBHI) Bidik Pertumbuhan Kredit di Atas Industri pada 2026 Untuk menjaga kualitas kredit, bank digital milik Chairul Tanjung ini bakal memperkuat
underwriting berbasis data, segmentasi nasabah dan
risk-based pricing yang lebih
granular. Selain itu, monitoring kualitas kredit secara dini,
collection, serta
early warning system juga akan diperkuat. Allo Bank juga bakal terus mengevaluasi kinerja masing-masing segmen dan produk. Jika terdapat perubahan profil risiko, bank memiliki ruang untuk menyesuaikan
appetite, limit, pricing maupun strategi akuisisi. “Kami ingin menjaga NPL tetap berada pada level yang
prudent dan kompetitif dibandingkan industri,” kata Destya. Lebih lanjut ia bilang sejumlah faktor eksternal yang bakal menjadi perhatian hingga akhir tahun antara lain daya beli dan kemampuan bayar masyarakat, kondisi sektor usaha dan
employment, arah suku bunga, serta perkembangan ekonomi makro. Di tengah tantangan tersebut, Destya masih melihat fundamental Allo Bank cukup kuat. Selain kredit yang tumbuh 28% secara tahunan, Allo Bank berhasil mencatat laba bersih Rp 234 miliar pada semester I-2026.
Baca Juga: Tak Agresif, Allo Bank Turunkan Bunga Deposito Secara Selektif Margin bunga bersih atau
net interest margin (NIM) juga meningkat menjadi 10,9% pada Semester I-2026 dari 10,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Kami ingin kredit tumbuh secara sehat, memberikan
return yang optimal sesuai risikonya, dan pada akhirnya menghasilkan revenue serta profitabilitas yang
sustainable bagi Allo Bank,” tukas Destya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News