KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk menyatakan, jatuh tempo Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam jumlah besar berpotensi menambah likuiditas perbankan dan meredakan persaingan bunga deposito. Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja mengatakan, jatuh tempo SRBI memberikan tambahan likuiditas langsung ke sistem perbankan. Pasalnya, perbankan merupakan salah satu pemegang terbesar instrumen tersebut. Menurut Ganda, dana yang sebelumnya ditempatkan pada instrumen moneter Bank Indonesia (BI) akan kembali menjadi alat likuid bank. Namun, bank tidak serta-merta menempatkan seluruh dana tersebut kembali ke SRBI.
Baca Juga: OJK dan BI Soroti Risiko Baru Perbankan Global, dari Kripto hingga AI "Keputusan untuk memperpanjang penempatan atau
roll over SRBI akan bergantung pada tingkat imbal hasil yang ditawarkan BI saat lelang dibandingkan dengan BI-Rate, kebutuhan likuiditas internal untuk penyaluran kredit menjelang akhir tahun, serta tren penurunan suku bunga moneter," ungkap Ganda kepada kontan.co.id, Jumat (9/10). Pada periode sebelumnya, perbankan cenderung menempatkan dana menganggur di SRBI karena menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko yang relatif rendah. Namun, pada kuartal IV-2026, bank berpeluang mengoptimalkan aset produktif dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk melalui penyaluran kredit dan penyesuaian portofolio ke SBN. Meski demikian, Ganda menekankan bahwa ekspansi kredit tetap akan dilakukan secara hati-hati. Bank juga perlu melihat permintaan kredit, khususnya dari segmen korporasi, sebelum memutuskan menyalurkan tambahan likuiditas tersebut. Dari sisi intermediasi, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau
loan to deposit ratio (LDR) berpotensi turun apabila dana hasil jatuh tempo SRBI lebih dahulu disimpan sebagai dana pihak ketiga atau ditempatkan di rekening giro BI. Sebaliknya, apabila likuiditas tersebut disalurkan untuk membiayai kredit baru, LDR berpeluang kembali stabil pada kisaran optimal. "Melimpahnya likuiditas juga berpotensi mengurangi ketergantungan bank terhadap dana berbiaya mahal. Kondisi ini membuka ruang bagi biaya dana atau *cost of fund* untuk bertahan maupun menurun," ucap Ganda.
Ganda memperkirakan bunga deposito berpeluang terkoreksi turun seiring meredanya tekanan likuiditas. Sementara itu, bunga kredit juga memiliki ruang untuk turun, meski transmisinya cenderung lebih lambat dibandingkan bunga deposito. Dengan tambahan likuiditas dari pencairan SRBI, persaingan perbankan dalam menghimpun dana diperkirakan turut mereda. Bank tidak lagi harus terlalu agresif menawarkan bunga deposito tinggi untuk menarik dana masyarakat ketika pasokan likuiditas di sistem perbankan semakin longgar.
Baca Juga: BSI Bantu Dorong Pemulihan Ekonomi Desa Sade Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News