KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk (
BBHI) menyiapkan dana maksimal Rp 300 miliar untuk melaksanakan pembelian kembali saham atau
buyback. Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, dana
buyback tersebut akan berasal dari saldo laba ditahan. Perseroan berencana melakukan pembelian kembali saham melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menggunakan jasa satu Anggota Bursa. Adapun periode pelaksanaan
buyback diperkirakan berlangsung mulai 3 September 2026 hingga 2 Desember 2026.
Baca Juga: Allo Bank (BBHI) Bidik Pertumbuhan Kredit di Atas Industri pada 2026 "Perseroan berencana untuk melakukan pembelian kembali saham Perseroan yang telah dikeluarkan dan tercatat di PT Bursa Efek Indonesia," tulis manajemen Allo Bank dalam keterbukaan informasi, Rabu (2/9/2026). Dengan dana maksimal Rp300 miliar tersebut, nilai nominal saham yang akan dibeli kembali juga sebanyak-banyaknya mencapai Rp300 miliar. Allo Bank menyebut aksi korporasi ini dilakukan untuk memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja perusahaan. Selain itu,
buyback ditujukan untuk menjaga keharmonisan antara kondisi pasar dan fundamental perseroan sekaligus mempertahankan kepercayaan pemangku kepentingan dalam mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Saham yang telah dibeli kembali nantinya akan disimpan sebagai saham
treasuri (treasury stock) untuk jangka waktu sesuai dengan ketentuan POJK No. 29 Tahun 2023.
Baca Juga: Allo Bank Sebut Tambahan Dana SAL Beri Ruang Penurunan Cost of Fund Perbankan Allo Bank menilai, pelaksanaan
buyback tidak akan memberikan dampak material terhadap kegiatan usaha maupun likuiditas perseroan. Dengan asumsi seluruh dana Rp300 miliar digunakan untuk
buyback, jumlah aset perseroan secara proforma per 30 Juni 2026 akan turun dari Rp15,57 triliun menjadi Rp15,27 triliun. Sementara itu, ekuitas turun dari Rp7,34 triliun menjadi Rp7,04 triliun.
Perseroan memperkirakan laba bersih secara proforma turun dari Rp 233,67 miliar menjadi Rp 227,67 miliar. Penurunan tersebut antara lain berasal dari hilangnya potensi pendapatan bunga apabila dana Rp300 miliar ditempatkan pada Deposit Facility Bank Indonesia dengan asumsi tingkat bunga 5% per tahun. Adapun laba per saham (EPS) secara performa turun tipis dari Rp 21,51 menjadi Rp 21,33.
Dari sisi profitabilitas,
return on asset (ROA) diproyeksikan turun dari 4% menjadi 3,98%, sedangkan
return on equity (ROE) justru meningkat dari 6,31% menjadi 6,41%.
Baca Juga: Pengguna Allo PayLater Tembus 2,3 Juta hingga Semester I-2026 "Analisa di atas menunjukkan bahwa dengan dilakukannya pembelian kembali saham oleh Perseroan tidak akan terjadi perubahan yang signifikan terhadap indikator keuangan Perseroan," tulis manajemen. Meski demikian, penggunaan dana Rp300 miliar untuk
buyback akan berdampak terhadap permodalan Allo Bank.