KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan The Fed berpotensi mendorong penyesuaian suku bunga kredit perbankan di Indonesia, meski dampaknya tidak berlangsung secara instan. Perbankan perlu mencermati transmisi kebijakan suku bunga serta perkembangan biaya dana sebelum melakukan
repricing kredit. Direktur Allo Bank Ganda Raharja mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed dapat memicu penguatan dolar AS dan arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Kondisi tersebut berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) merespons melalui kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan
imported inflation. Menurut Ganda, kenaikan BI-Rate kemudian dapat mendorong kenaikan suku bunga simpanan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap bunga kredit.
Baca Juga: Prudential Indonesia Catat Rekor Premi Bancassurance Rp 4,4 Triliun Naik 155% Namun, transmisi dari suku bunga kebijakan ke bunga kredit tidak terjadi secara langsung. Ganda memperkirakan dibutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan. “Bank biasanya terlebih dahulu menyesuaikan suku bunga deposito sebelum ke suku bunga pinjaman,” ujar Ganda kepada Kontan.co.id Senin (21/9/2026). Ia mengatakan, kenaikan bunga kredit juga umumnya tidak sebesar kenaikan suku bunga acuan BI secara satu banding satu. Jika BI-Rate naik 1%, rata-rata bunga kredit bank diperkirakan meningkat sekitar 0,5%-0,75%, tergantung kondisi likuiditas dan strategi persaingan antarbank. Ganda menilai, kenaikan bunga kredit tidak akan berdampak merata terhadap seluruh portofolio perbankan. Segmen kredit korporasi dan komersial menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga acuan. Pasalnya, pinjaman di segmen tersebut umumnya menggunakan suku bunga mengambang atau
floating rate dengan periode peninjauan yang relatif pendek.
Baca Juga: Ini Kata AAUI Soal Putusan MK Pasal 304 KUHD Mengenai Klaim di Polis Asuransi “Pinjaman korporasi umumnya menggunakan
floating rate berjangka pendek dan ditinjau secara berkala, tiap 1-3 bulan,” jelasnya. Selain kredit korporasi dan komersial, KPR yang telah melewati periode bunga tetap atau
fixed rate juga berpotensi terkena dampak penyesuaian. Setelah masa bunga tetap berakhir, kredit dapat memasuki periode bunga mengambang sehingga cicilan debitur berpotensi meningkat mengikuti mekanisme
repricing yang berlaku. Di tengah potensi kenaikan bunga kredit, Ganda mengatakan bank perlu menjaga pertumbuhan pembiayaan agar tidak terlalu tertekan. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menjaga rasio
current account saving account (CASA) agar
cost of funds (CoF) tetap rendah. Dengan biaya dana yang lebih efisien, bank memiliki ruang untuk tidak menaikkan bunga kredit secara drastis dibandingkan kompetitor. Untuk segmen konsumer seperti KPR dan KPA, bank juga dapat menawarkan skema
fixed rate dengan tenor lebih panjang, misalnya tiga hingga lima tahun. Selain itu, skema cicilan berjenjang atau step-up dapat digunakan untuk menarik minat debitur baru.
Baca Juga: OJK Buka Peluang Dana Pensiun Investasi di Luar Negeri, Ini Respons Dapen BTN Bank juga dapat mengarahkan penyaluran kredit ke sektor ekonomi yang relatif lebih tahan terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga, seperti
fast moving consumer goods (FMCG), kesehatan, komoditas eksportir dan infrastruktur pemerintah. Ganda menambahkan, bank akan melakukan
repricing secara otomatis pada kredit dengan suku bunga mengambang sesuai mekanisme yang berlaku.
Penyesuaian tersebut berpotensi meningkatkan beban cicilan debitur karena porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar utang menjadi lebih besar. Risiko tersebut terutama perlu diwaspadai pada debitur dengan arus kas yang ketat atau sektor usaha dengan margin tipis. Jika kemampuan bayar semakin tertekan, kualitas kredit dapat ikut terdampak dan berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah atau
non-performing loan (NPL). Karena itu, bank perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. Salah satunya melalui restrukturisasi kredit, seperti perpanjangan tenor atau penjadwalan ulang pembayaran, sebelum kualitas fasilitas kredit memburuk menjadi kurang lancar atau macet. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News