KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan perubahan signifikan dalam strategi alokasi investasi industri dana pensiun (dapen) sepanjang 2025. Penempatan dana pada instrumen deposito tercatat meningkat 22,77% secara
year on year (YoY) menjadi Rp 104,66 triliun per akhir 2025. Sebaliknya, investasi pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami penurunan tajam sebesar 80,50% YoY menjadi Rp 3,29 triliun pada periode yang sama. Perubahan ini mencerminkan penyesuaian strategi industri dalam merespons dinamika imbal hasil dan kebutuhan likuiditas.
Tren Serupa Terjadi di Industri DPLK
Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) menyampaikan bahwa industri DPLK juga mengalami tren yang sejalan dengan industri dapen secara keseluruhan.
Baca Juga: Ini Kata Dapen BCA Soal Alokasi Industri Dana Pensiun di Deposito Naik dan SRBI Turun Ketua Umum Asosiasi DPLK, Tondy Suradiredja, mengungkapkan bahwa penempatan DPLK pada deposito meningkat 19,62% secara YoY. Sementara itu, investasi pada SRBI turun 83,56% YoY per Desember 2025. Menurut Tondy, penurunan alokasi pada SRBI dipengaruhi oleh imbal hasil yang dinilai sudah tidak lagi kompetitif dibandingkan instrumen pasar uang lainnya. "Sebagai instrumen pasar uang untuk penempatan jangka pendek, dana dari SRBI dialihkan ke deposito guna menjaga likuiditas sebelum masuk ke aset lain yang lebih potensial," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (18/2).
Strategi Life Cycle Fund untuk Optimalkan Imbal Hasil
Memasuki tahun ini, asosiasi mendorong DPLK untuk menerapkan strategi investasi berbasis life cycle fund dengan horizon yang lebih panjang sejak peserta mulai bergabung. Strategi ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi imbal hasil sesuai tahapan usia peserta. Tondy menjelaskan bahwa melalui skema tersebut, dana peserta usia muda dapat dialokasikan lebih besar ke instrumen yang lebih agresif dan berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi dalam jangka panjang.
Baca Juga: Asosiasi Dorong Industri DPLK Lakukan Diversifikasi Investasi Lebih Luas "Adapun peserta yang mendekati masa pensiun ditempatkan pada instrumen konservatif, seperti deposito untuk menjaga nilai asetnya," tuturnya.
Pengelolaan Portofolio Dinamis Sesuai Profil Risiko
Meski terjadi peningkatan alokasi pada deposito, Tondy menegaskan bahwa besar kecilnya penempatan dana tetap bergantung pada pilihan paket investasi masing-masing peserta. Peran DPLK, lanjutnya, adalah memastikan pengelolaan portofolio dilakukan secara dinamis agar setiap kelompok usia peserta memperoleh imbal hasil optimal sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Perubahan komposisi investasi ini mencerminkan upaya industri dana pensiun dalam menjaga keseimbangan antara likuiditas, keamanan dana, dan potensi imbal hasil di tengah dinamika pasar keuangan domestik sepanjang 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News