Alokasi Pencadangan Perbankan Beragam, Ini Sebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tak seperti tahun lalu, tahun ini tren alokasi pencadangan (impairment) perbankan tak seragam jelang akhir semester I-2026. 

Di kumpulan bank buku empat, arahnya terbagi dua. Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) kompak mencatatkan kenaikan beban impairment, masing-masing sebesar 30,58% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 7,5% yoy hingga Mei 2026. 

Sementara itu, dalam periode yang sama, Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA) justru turun pencadangannya, masing-masing sebesar 15,83% yoy dan 13,62% yoy. 


Menurut Staf Riset Ekonomi Makro BTN, Myrdal Gunarto, perbedaan arah pencadangan perbankan ini menunjukkan bahwa setiap bank kini merespons tantangan makroekonomi dengan postur ketahanan dan strategi yang berbeda-beda.

Myrdal bilang bank-bank yang menaikkan impairment umumnya menghadapi tekanan kualitas aset pada segmen spesifik, misalnya UMKM atau komersial. Atau, mungkin juga bank-bank ini tengah berupaya mengejar ketertinggalan coverage ratio agar setara dengan rata-rata industri di tengah ketidakpastian makro.

Baca Juga: Bank Tak Agresif Pertebal Pencadangan,Jaga Kualitas Kredit Saat Ketidakpastian Global

Sementara bank yang menurunkan impairment, kata Myrdal, umumnya sudah melakukan front-loading alias sudah memupuk pencadangan besar-besaran pada tahun-tahun sebelumnya. 

“Dengan NPL coverage ratio yang sangat tebal, misal di atas 200%, mereka merasa bantalannya sudah lebih dari cukup,” papar Myrdal kepada Kontan, Jumat (3/7/2026). 

Di samping itu, bank dengan portofolio restrukturisasi masa lalu yang sudah banyak pulih memiliki ruang lebih untuk mengurangi alokasi pencadangan baru. 

Namun begitu, Myrdal bilang tren pencadangan bank tak cuman mencerminkan ketahanan risiko, tetapi bisa juga menjadi cerminan upaya bank mengelola laju profitabilitasnya. 

Di bawah rezim PSAK 71 yang berbasis Expected Credit Loss (ECL), bank sejatinya tak bisa memanipulasi pencadangan sesuka hati karena perhitungannya harus bersifat forward-looking dan terkalibrasi secara matematis terhadap indikator ekonomi.

Baca Juga: BTN Tak Agresif Tambah Pencadangan Kredit, Pilih Perkuat Kualitas Aset

Namun begitu, manajemen tetap memiliki ruang melalui management overlay. Jika model matematis menilai risiko portofolio sudah ternormalisasi, bank dengan pencadangan tebal bisa menahan pembentukan pencadangan baru. 

Nah, hal ini otomatis memungkinkan laba operasional mereka agar tumbuh lebih optimal. “Jadi, penurunan beban impairment mungkin memang valid karena risiko aset mereka membaik, yang sekaligus menjadi leverage pendorong bottom line,” ujar Myrdal. 

Kendati begitu, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini bilang strategi bisnis yang didorong pihaknya lebih diarahkan ke penguatan fundamental sehingga laba bersihnya secara bank only mampu tumbuh 18,6% yoy per Mei 2026.

Itu, kata Novita, tercermin dari total aset bank secara bank only yang tumbuh 20% yoy dalam periode ini, sejalan dengan pertumbuhan kredit sebesar 20,6% yoy. Pun, kredit dipastikan mengalir ke sektor produktif mulai dari hilirisasi industri hingga segmen UMKM.

Baca Juga: BCA Jaga Kualitas Kredit Rumah Tangga dengan Pencadangan yang Cukup

“Kinerja ini merupakan hasil dari eksekusi strategi yang terukur dan konsisten di seluruh lini bisnis, dengan pengelolaan risiko yang disiplin dan penuh kehati-hatian untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang,” ujar Novita.

Sementara itu EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn memastikan beban pencadangan dalam periode ini tetap memadai dan bakal dikaji sesuai dengan perkembangan kualitas aset dan kondisi perekonomian. 

Selain itu, demi menjaga keberlangsungan bisnis, ia turut memastikan pihaknya senantiasa mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor secara pruden, dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

Baca Juga: Tekanan Kredit Masih Membayangi, Bank Pertebal Pencadangan untuk Hadapi 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News