Altcoin Masuk Fase Bear Market, Ini Sektor Kripto yang Masih Menarik



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren bearish masih membayangi industri kripto global, tak hanya pada aset kripto utama, tetapi juga pada kelompok altcoin.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai, prospek altcoin sepanjang 2026 kemungkinan tidak akan mengalami reli serentak seperti siklus euforia sebelumnya, melainkan bergerak lebih selektif.

Menurut dia, pasar token non-bitcoin bahkan dinilai telah memasuki fase altcoin bear market sejak puncak akhir 2024. Sejumlah riset institusional juga mencatat kapitalisasi pasar kripto di luar Bitcoin, Ethereum, dan stablecoin turun sekitar 44% hingga akhir 2025.


“Artinya peluang tetap ada, tetapi kemungkinan lebih banyak mengalir ke altcoin yang punya use case jelas, likuiditas tebal, dan akses institusi,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Jumat (28/2/2026).

Baca Juga: Minim Katalis, Bitcoin Berisiko Turun ke US$ 50.000

Fyqieh menjelaskan, kondisi bearish altcoin saat ini bukan sekadar koreksi normal. Sejumlah faktor struktural masih menekan, mulai dari persoalan value capture token yang belum kuat, aktivitas on-chain yang melemah, hingga arus spekulatif yang menyusut.

Fyqieh menambahkan, jika likuiditas global tidak benar-benar longgar, maka altcoin mid hingga small cap dengan fundamental dan tokenomics lemah berpotensi tetap sulit pulih sepanjang 2026.

Meski demikian, Fyqieh melihat masih ada katalis yang bisa menopang sentimen pasar kripto tahun ini, terutama dari tema yang memiliki adopsi dunia nyata.

Beberapa di antaranya adalah stablecoin, sistem pembayaran berbasis blockchain, serta tokenisasi aset dunia nyata (real world assets/RWA).

Baca Juga: Bitcoin Bangkit ke US$ 66.000, Rumor Jane Street Picu Spekulasi Tekanan Institusional

Ia menyoroti bahwa pasar stablecoin memasuki 2026 di kisaran US$ 310 miliar, yang mencerminkan utilitas blockchain masih berkembang meski harga token berfluktuasi.

Selain itu, sektor RWA seperti tokenisasi obligasi pemerintah (treasuries) dan private credit diperkirakan menjadi area pertumbuhan yang lebih cepat pada 2026.

Altcoin yang Masih Menarik

Dari sisi aset, Fyqieh menilai altcoin berkapitalisasi besar masih relatif menarik untuk dicermati. Ethereum (ETH), misalnya, tetap menjadi favorit karena perannya sebagai fondasi ekosistem DeFi dan smart contract.

Di sisi lain, jaringan layer-2 seperti Arbitrum, Optimism, Polygon, StarkNet, dan zkSync juga dipandang prospektif. Infrastruktur ini membantu meningkatkan skalabilitas Ethereum melalui biaya transaksi yang lebih rendah dan throughput lebih tinggi.

“Sektor ini berpotensi menarik lebih banyak pengguna aktif dan aktivitas DApps,” jelasnya.

Baca Juga: Harga Bitcoin Turun, Pintu Futures Rilis Fitur Manajemen Risiko untuk Trader

Tema lain yang mulai mendapat perhatian pada 2026 adalah AI-crypto. Fyqieh mencontohkan Chainlink (LINK) sebagai penyedia oracle yang menjadi infrastruktur penting Web3, serta Bittensor (TAO) yang mengusung jaringan pembelajaran mesin terdesentralisasi.

Meski menjanjikan, ia mengingatkan bahwa proyek AI-crypto umumnya masih membawa risiko lebih tinggi karena teknologinya relatif baru.

Sementara itu, sektor DeFi dinilai tetap relevan karena masih menjadi use case utama blockchain. Platform yang fokus pada lending, decentralized exchange (DEX), serta model yield yang berkelanjutan berpotensi mempertahankan minat pasar apabila pertumbuhan jaringan berlanjut dan risiko keamanan dapat ditekan.

Fyqieh menegaskan, proyeksi harga altcoin sepanjang 2026 tetap sangat spekulatif. Pergerakan harga akan sangat bergantung pada adopsi pengguna, likuiditas global, regulasi, serta perkembangan teknologi masing-masing proyek.

“Altcoin dengan fundamental kuat dan utilitas nyata berpeluang menunjukkan kenaikan signifikan jika narasi tersebut benar-benar diterima pasar,” katanya.

Baca Juga: Terkoreksi 22%, Bagaimana Prospek Pergerakan Harga Bitcoin di Kuartal I – 2026?

Sebaliknya, altcoin yang utilitasnya kurang jelas berpotensi tetap tertekan. Karena itu, investor disarankan tetap berhati-hati, melakukan riset mandiri, serta menerapkan diversifikasi risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News