Ambisi AISA menjadi raja beras



JAKARTA. Setelah sukses berbisnis makanan, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) mantap mengembangkan bisnis beras. Sebelumnya, AISA fokus pada produksi mie kering dengan merek ternama seperti Ayam 2 Telor, Bihunku, dan Superior.Pada 2010, AISA merambah bisnis beras. Sepak terjang ASIA pada bisnis beras diawali dengan mengakuisisi pabrik beras Jatisari Srirejeki di Cikampek, Jawa Barat. Tahun 2011, AISA kembali mengakuisisi pabrik dan merek beras milik PT Alam Makmur Sembada yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.AISA makin percaya diriĀ  setelah menjadi pemain utama produk beras dalam negeri dengan merek andalan seperti beras Ayam Jago, Rumah Adat, Desa Cianjur, dan Istana Bangkok. Produk AISA mayoritas masuk pasar modern, dengan target masyarakat ekonomi menengah ke atas.Baru-baru ini, AISA meresmikan pabrik penggilingan beras ketiga, di Sragen, Jawa Tengah yang dikelola anak usahanya, PT Sukses Abadi Karya Inti. Pabrik ini berkapasitas produksi 240.000 ton beras per tahun.Jumlah tersebut dua kali lipat dari kapasitas pabrik sebelumnya. Dengan beroperasinya pabrik baru Sragen, kapasitas produksi AISA menjadi 480.000 ton per tahun.Direktur Utama AISA, Djoko Mokoginta mengatakan, fokus pemasaran beras AISA adalah pasar dalam negeri. "Untuk ekspor belum, nanti kami seleksi dulu varietas yang unggul mana," ujarnya saat peresmian pabrik beras di Sragen, Senin (24/3). Saat ini, AISA ingin membangun bisnis beras nasional dengan brand yang kuat. Maklum, usaha ini sekarang sudah menjadi bisnis utama AISA.Produsen camilan merek Taro itu menargetkan bisa menguasai 5% pangsa pasar beras dalam negeri pada tahun 2020. Rencana pun disusun. AISA menjalin kerjasama dengan Yayasan Partnership for Indonesia's Sustainable Agriculture (PISAgro). Bersama PISAgro, AISA melatih petani meningkatkan suplai gabah kering panen yang berkesinambungan.Sepanjang tahun 2013 hingga 2014, AISA dan PISAgro mengerjakan 30 proyek kerjasama dengan melibatkan 9.000 petani. Lahan garapan tercatat seluas 5.000 hektare (ha). Proyek ini akan terus dipacu hingga tahun 2020.Tahun depan, AISA berencana menggarap 40.000 ha sawah dengan melibatkan 120.000 petani. Hingga 2020 nanti, AISA menargetkan dapat menggarap 800.000 ha sawah yang melibatkan 2,6 juta petani. AISA yakin, kerjasama ini kelak bisa mengerek kapasitas produksi hingga 2 juta ton per tahun.AISA mengklaim, mesin pabriknya memiliki teknologi canggih asal Jepang dan Jerman, sehingga bisa mengolah gabah menjadi menjadi beras berkualitas dan harganya pun premium.Seiring penambahan suplai bahan baku beras, ASIA juga terus mengembangkan pabrik pengolahan beras. Pasalnya, untuk memproduksi 2 juta ton beras per tahun, dibutuhkan setidaknya 16 pabrik hingga 18 pabrik. Setelah pabrik Sragen, tahun depan AISA berencana membangun pabrik penggilingan beras di Jawa Timur.Direktur Keuangan AISA, Sjambiri Lioe bilang, pabrik beras di Jawa Timur ditargetkan berkapasitas 240.000 ton per tahun, dan beroperasi medio 2015. "Setelah itu kami akan tentukan pembangunan pabrik selanjutnya," katanya.Rencananya, AISA akan membangun pabrik baru diĀ  Sulawesi dan Lombok. Di Sulawesi, AISA sudah memiliki gudang beras dengan kapasitas 400.000 ton per tahun. Sementara di Lombok, gudang beras AISA berkapasitas 100.000 ton per tahun.Tahun ini, AISA menargetkan divisi beras menyumbang pendapatan Rp 3,5 triliun. Lalu, divisi makanan menyumbang pendapatan Rp 2,5 triliun dan minyak kelapa sawit Rp 200 miliar. Dengan berbagai lini bisnis, AISA mengklaim sebagai perusahaan dengan bisnis makanan lengkap, mulai dengan bahan baku hingga produk olahan.Tahun 2020, kapasitas produksi AISA dipatok menjadi 2 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Yuwono Triatmodjo