KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ambisi SpaceX untuk membangun layanan seluler (mobile service) secara penuh mulai memicu kekhawatiran di industri telekomunikasi Amerika Serikat (AS). Rencana tersebut dinilai berpotensi menempatkan layanan internet satelit Starlink sebagai pesaing langsung operator telekomunikasi terbesar seperti Verizon, AT&T, dan T-Mobile. Kekhawatiran investor langsung tercermin pada pergerakan saham perusahaan telekomunikasi AS. Saham Verizon, AT&T, dan T-Mobile masing-masing turun sekitar 1% hingga 2,4% dalam perdagangan pra-pembukaan (pre-market) pada Rabu (5/8/2025), setelah SpaceX mengungkapkan strategi ekspansinya. Mengutip Reuters, Rabu (5/8/2026), SpaceX sebelumnya mengakuisisi lisensi spektrum nirkabel (wireless spectrum) milik EchoStar senilai total US$ 19,6 miliar melalui dua transaksi yang diumumkan tahun lalu. Akuisisi tersebut memberikan Starlink akses frekuensi yang dibutuhkan untuk memperluas layanan ke sektor komunikasi seluler.
Presiden SpaceX, Gwynne Shotwell, mengatakan spektrum yang diperoleh dari EchoStar tidak hanya dapat digunakan untuk komunikasi satelit, tetapi juga memiliki komponen jaringan terestrial. "Spektrum yang kami beli dari EchoStar memang memiliki komponen terestrial, sehingga kami tentu berencana membangun jaringan terestrial tersebut," ujar Shotwell dalam konferensi setelah laporan keuangan perusahaan.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak ke Level Tertinggi Sebulan, Harapan Damai AS-Iran Jadi Pendorong Ia menambahkan, SpaceX akan membangun infrastruktur yang diperlukan agar Starlink dapat berkembang menjadi "layanan seluler yang sesungguhnya" dan optimistis mampu merebut "cukup banyak" pelanggan dari tiga operator telekomunikasi terbesar di AS. Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling jelas sejauh ini bahwa SpaceX berencana menggabungkan jaringan satelit Starlink dengan infrastruktur berbasis darat untuk menghadirkan layanan nirkabel yang lebih lengkap. Selama ini, layanan Starlink direct-to-cell hanya difokuskan untuk menyediakan konektivitas di wilayah yang tidak terjangkau jaringan seluler.
Starlink Jadi Mesin Pendapatan Utama SpaceX
Bisnis Starlink dan layanan konektivitas SpaceX saat ini menjadi sumber pendapatan utama perusahaan. Arus kas dari segmen tersebut menopang berbagai proyek ambisius Elon Musk, mulai dari pengembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data (data center), hingga roket generasi berikutnya. Meski demikian, sejumlah analis menilai langkah Starlink untuk menjadi operator seluler nasional tidak akan mudah dan membutuhkan investasi sangat besar serta waktu bertahun-tahun. Selama lebih dari tiga dekade, Verizon, AT&T, dan T-Mobile telah menginvestasikan ratusan miliar dolar AS untuk memperoleh lisensi spektrum, membangun serta meningkatkan kualitas jaringan, sekaligus mempertahankan basis pelanggan mereka. Keunggulan tersebut dinilai sulit ditandingi oleh SpaceX dalam waktu singkat. Craig Moffett, analis dari MoffettNathanson, mengatakan SpaceX akan menghadapi tantangan besar jika ingin bersaing secara langsung. "Kecuali Starlink berhasil memperoleh perjanjian MVNO (Mobile Virtual Network Operator) dengan salah satu operator yang dapat menyediakan cakupan jaringan dasar, sangat sulit membayangkan layanan langsung kepada konsumen dari Starlink mampu bersaing dengan layanan operator dalam lima tahun ke depan," ujarnya.
Baca Juga: Uni Eropa akan Salurkan US$1,6 Miliar dari Aset Rusia yang Dibekukan untuk Ukraina Sebagai informasi, MVNO merupakan penyedia layanan seluler yang tidak memiliki jaringan nasional sendiri. Perusahaan semacam ini menyewa kapasitas jaringan dari operator yang sudah ada, kemudian menjual layanan tersebut dengan mereknya sendiri.
Akuisisi Dinilai Jadi Jalan Tercepat
Matt Britzman, analis senior ekuitas dari Hargreaves Lansdown, menilai langkah tercepat bagi SpaceX adalah melakukan akuisisi terhadap operator yang lebih kecil atau membeli aset yang telah memiliki spektrum frekuensi, menara seluler, serta basis pelanggan. "Akuisisi tampaknya menjadi jalur tercepat bagi SpaceX, baik terhadap operator yang lebih kecil maupun aset yang menghadirkan spektrum, menara seluler, dan pelanggan," kata Britzman. Ia juga menilai operator besar kemungkinan tidak bersedia menyewakan kapasitas jaringannya kepada calon pesaing baru. Sementara itu, Shotwell enggan mengungkapkan besaran investasi yang dibutuhkan untuk membangun layanan seluler Starlink. Menurutnya, SpaceX memiliki "gagasan-gagasan baru yang sangat baik" mengenai cara membangun jaringan tersebut secara lebih efisien dari sisi penggunaan modal. Pandangan senada disampaikan David Barden dari New Street Research. "Tidak masuk akal bagi SpaceX untuk mencoba meniru apa yang telah dibangun para pemain jaringan terestrial selama 30 tahun dengan total spektrum sekitar 1.000 MHz, hanya bermodalkan 65 MHz," ujarnya.
Baca Juga: Krisis Kepemimpinan FIFA Memanas, Gianni Infantino Gelar Rapat Darurat di Maroko Potensi Disrupsi Tetap Besar
Di sisi lain, sebagian investor menilai pasar masih meremehkan potensi bisnis konektivitas SpaceX.
David Wagner, manajer portofolio Aptus Capital Advisors, mengatakan komentar Elon Musk mengenai rendahnya penilaian investor terhadap bisnis tersebut bukan tanpa alasan. "Saya benar-benar berpikir bahwa apa yang dikatakan Elon dalam konferensi mengenai investor yang masih meremehkan sisi bisnis tersebut sepenuhnya benar menurut saya," ujar Wagner. Ia menambahkan, operator telekomunikasi tradisional berisiko tertinggal jika SpaceX terus mempertahankan kecepatan inovasinya. Saat ini, melalui kemitraan dengan T-Mobile, SpaceX memanfaatkan satelit Starlink untuk menghadirkan layanan direct-to-cell bagi ponsel pintar yang kompatibel di wilayah tanpa jangkauan jaringan seluler. Layanan tersebut masih bersifat pelengkap jaringan T-Mobile, bukan sebagai pesaing langsung.