KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi fenomena El Nino pada paruh kedua 2026, diperkirakan dapat menjadi pendorong pertumbuhan industri air minum dalam kemasan (AMDK). Cuaca yang lebih panas diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan hidrasi masyarakat sehingga mendorong permintaan produk AMDK. Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA), Karyanto Wibowo, menilai prospek industri AMDK hingga akhir 2026 masih positif. Sebagai industri yang memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, permintaan AMDK dinilai relatif stabil dibandingkan banyak kategori konsumsi lainnya. Menurut Karyanto, industri AMDK saat ini memiliki kapasitas produksi nasional sekitar 47 miliar liter per tahun dengan pertumbuhan historis di kisaran 5% hingga 8% per tahun. "Potensi El Nino pada semester II/2026 dapat menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan konsumsi. Namun, kondisi ini juga perlu diwaspadai, terutama terkait ketersediaan dan keberlanjutan sumber daya air," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (29/7). Baca Juga: Lautan Luas Catat Kinerja Solid, Pendapatan Semester I-2026 Tembus Rp5,11 Triliun Karyanto menjelaskan, cuaca yang lebih panas dan kering umumnya meningkatkan kebutuhan hidrasi masyarakat. Selain itu, pertumbuhan permintaan juga ditopang oleh meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, perjalanan, serta kesadaran mengonsumsi air minum yang aman dan higienis. Meski dampak cuaca sulit diukur secara terpisah, AMDATARA memperkirakan faktor tersebut dapat membantu industri mempertahankan pertumbuhan sekitar 5% hingga 6% sepanjang 2026. Dari sisi kinerja, tren penjualan industri hingga semester I/2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Permintaan didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat, momentum Ramadan dan Idulfitri, serta kebutuhan konsumsi rumah tangga dan pekerja. "Indikasi positif juga terlihat dari kinerja sejumlah pelaku industri yang masih membukukan pertumbuhan penjualan maupun volume pada paruh pertama tahun ini, meskipun industri menghadapi tantangan terkait pasokan bahan baku dan kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah," kata Karyanto. Berdasarkan segmen produk, kemasan botol menjadi salah satu yang mencatat pertumbuhan paling baik, terutama untuk kebutuhan konsumsi di luar rumah seperti bekerja, sekolah, berolahraga, dan bepergian. Sementara itu, galon tetap menjadi penyumbang volume terbesar karena masih menjadi pilihan utama rumah tangga dan perkantoran. Hingga akhir tahun, AMDATARA memproyeksikan industri AMDK nasional masih mampu mencatat pertumbuhan sekitar 5% hingga 6%, didukung meningkatnya konsumsi domestik, mobilitas masyarakat, serta potensi kenaikan permintaan selama musim kemarau.
AMDATARA Proyeksikan Industri AMDK Mampu Tumbuh 6% hingga Akhir 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi fenomena El Nino pada paruh kedua 2026, diperkirakan dapat menjadi pendorong pertumbuhan industri air minum dalam kemasan (AMDK). Cuaca yang lebih panas diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan hidrasi masyarakat sehingga mendorong permintaan produk AMDK. Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA), Karyanto Wibowo, menilai prospek industri AMDK hingga akhir 2026 masih positif. Sebagai industri yang memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, permintaan AMDK dinilai relatif stabil dibandingkan banyak kategori konsumsi lainnya. Menurut Karyanto, industri AMDK saat ini memiliki kapasitas produksi nasional sekitar 47 miliar liter per tahun dengan pertumbuhan historis di kisaran 5% hingga 8% per tahun. "Potensi El Nino pada semester II/2026 dapat menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan konsumsi. Namun, kondisi ini juga perlu diwaspadai, terutama terkait ketersediaan dan keberlanjutan sumber daya air," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (29/7). Baca Juga: Lautan Luas Catat Kinerja Solid, Pendapatan Semester I-2026 Tembus Rp5,11 Triliun Karyanto menjelaskan, cuaca yang lebih panas dan kering umumnya meningkatkan kebutuhan hidrasi masyarakat. Selain itu, pertumbuhan permintaan juga ditopang oleh meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, perjalanan, serta kesadaran mengonsumsi air minum yang aman dan higienis. Meski dampak cuaca sulit diukur secara terpisah, AMDATARA memperkirakan faktor tersebut dapat membantu industri mempertahankan pertumbuhan sekitar 5% hingga 6% sepanjang 2026. Dari sisi kinerja, tren penjualan industri hingga semester I/2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Permintaan didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat, momentum Ramadan dan Idulfitri, serta kebutuhan konsumsi rumah tangga dan pekerja. "Indikasi positif juga terlihat dari kinerja sejumlah pelaku industri yang masih membukukan pertumbuhan penjualan maupun volume pada paruh pertama tahun ini, meskipun industri menghadapi tantangan terkait pasokan bahan baku dan kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah," kata Karyanto. Berdasarkan segmen produk, kemasan botol menjadi salah satu yang mencatat pertumbuhan paling baik, terutama untuk kebutuhan konsumsi di luar rumah seperti bekerja, sekolah, berolahraga, dan bepergian. Sementara itu, galon tetap menjadi penyumbang volume terbesar karena masih menjadi pilihan utama rumah tangga dan perkantoran. Hingga akhir tahun, AMDATARA memproyeksikan industri AMDK nasional masih mampu mencatat pertumbuhan sekitar 5% hingga 6%, didukung meningkatnya konsumsi domestik, mobilitas masyarakat, serta potensi kenaikan permintaan selama musim kemarau.