Amerika Serikat Kini Impor Lebih Banyak dari Taiwan Ketimbang China



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade mengimpor lebih banyak barang dari Taiwan dibandingkan dari China, seiring kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang mengubah arus perdagangan global dan lonjakan permintaan produk teknologi akibat ledakan kecerdasan buatan (AI).

Data Departemen Perdagangan AS yang dirilis Kamis menunjukkan, pembelian barang AS dari China anjlok hampir 44% pada Desember dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi US$ 21,1 miliar. Sebaliknya, pengiriman dari Taiwan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 24,7 miliar pada periode yang sama.

Lonjakan ekspor Taiwan ke AS mencerminkan ekspansi besar-besaran pasokan chip dan server untuk perusahaan AI. Perkembangan ini mengubah profil perdagangan pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut dan mendorong ekonominya yang mendekati US$ 1 triliun menjadi salah satu yang tumbuh paling cepat di dunia.


Baca Juga: Harga Tembaga LME Berpotensi Rugi Mingguan Ketiga, Tertekan Stok Global dan Dolar AS

Sementara eksportir China semakin mendiversifikasi pasar mereka menjauhi AS akibat tarif tinggi yang diberlakukan pemerintahan Trump, perusahaan-perusahaan Taiwan justru memperbesar penetrasi ke pasar Amerika. Tahun lalu, hampir sepertiga total ekspor Taiwan ditujukan ke AS.

Meski eksportir China berhasil mengurangi dampak tarif dengan memperluas pasar ke luar AS atau menyalurkan barang melalui negara ketiga, perdagangan langsung antara dua ekonomi terbesar dunia tetap mengalami penurunan tajam.

Data terbaru juga menunjukkan keterbatasan upaya Trump untuk menyeimbangkan perdagangan global. Pada Desember, AS mencatat defisit perdagangan sebesar US$12,7 miliar dengan China, hanya lebih kecil dibandingkan defisit dengan Uni Eropa, Taiwan, Vietnam, dan Meksiko.

Secara tahunan, defisit perdagangan AS dengan China turun US$ 93,4 miliar menjadi US$ 202,1 miliar pada 2025. Namun, defisit dengan Taiwan justru melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi hampir US$ 147 miliar.

Kementerian Keuangan Taiwan menyatakan ekspor terdorong oleh lonjakan permintaan produk teknologi pulau tersebut. Pengiriman “produk informasi, komunikasi, dan audiovisual” ke AS pada Desember naik 200,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pekan lalu, Taipei menandatangani kesepakatan dagang dengan Washington yang menurunkan tarif “resiprokal” menjadi 15% dari sebelumnya 20%. Produk semikonduktor juga dapat dikirim ke AS tanpa bea masuk dalam kuota tertentu.

Kesepakatan perdagangan dan optimisme terhadap booming AI mendorong biro statistik Taipei merevisi tajam proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2026 menjadi 7,71% dari sebelumnya 3,54%.

Pada 2023, Taiwan masih mengekspor lebih banyak ke China dibandingkan ke AS atau negara lain mana pun. Namun pada tahun lalu, lonjakan barang yang dikirim melintasi Samudra Pasifik ke AS hampir dua kali lipat dibandingkan yang melintasi Selat Taiwan menuju China.

Baca Juga: Peso Filipina Melemah ke Level Terlemah dalam Sepekan

Selanjutnya: Investor Ritel Kini Ramai Beli SUN FR di Pasar Sekunder, Ini Alasannya!

Menarik Dibaca: 4 Destinasi Cantik untuk Menikmati Musim Bunga Sakura Selain Jepang