KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menanggapi sorotan terkait harga beras yang dinilai masih mahal meski pasokan nasional diklaim melimpah hingga mencapai 5 juta ton. Menurut Amran, persoalan harga beras tidak bisa dilihat secara sempit karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan petani di Indonesia. Amran mengatakan, pendapatan petani saat ini masih tergolong rendah dibandingkan profesi lainnya. Ia menyebut rata-rata penghasilan petani hanya sekitar Rp 37.000 per hari.
"Sekarang rokok juga harganya Rp 40.000, mahal mana (harga beras), kenapa
you tidak protes harga rokok mahal?," kata Amran dijumpai di kediaman pribadinya, Rabu (6/5/2026). Menurut Amran, terdapat sekitar 115 juta petani yang masih memiliki tingkat pendapatan di bawah rata-rata profesi lain. Karena itu, pemerintah juga memiliki tanggung jawab menjaga kesejahteraan petani dari sisi hulu sektor pangan.
Baca Juga: Prabowo Gunakan Maung di KTT ASEAN 2026, Ini Alasannya Ia menegaskan, pemerintah saat ini fokus menjaga stabilitas harga beras agar tetap terkendali dan tidak melampaui ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. "Jadi kita stabilkan, kita jangan pakai rasa mengelola negara, jangan pakai rasa memberi opini tapi ratio," ungkap Amran. Di sisi lain, Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani memastikan bahwa kondisi pasokan beras nasional saat ini masih aman dan melimpah. Rizal menyebut harga beras premium saat ini berada di level Rp 14.900 per kilogram, sedangkan harga beras medium sekitar Rp 12.500 per kilogram. Menurutnya, harga tersebut masih berada dalam rentang HET pemerintah. "Kemudian kami tetap melaksanakan operasi-operasi pasar bila terjadi kenaikan-kenaikan di pasar," ungkapnya.
Baca Juga: Bahlil Dampingi Prabowo di KTT ASEAN 2026, Ketahanan Energi Jadi Fokus Utama Untuk menjaga stabilitas harga dan distribusi, Bulog terus menggencarkan penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Penyaluran dilakukan bersama pemerintah pusat dan bekerja sama dengan jaringan ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart. Selain itu, Bulog juga mengusulkan agar program penyaluran beras Natura kembali diterapkan bagi kalangan TNI, Polri, dan aparatur sipil negara (ASN). Menurut Rizal, langkah tersebut dapat menjadi solusi penyerapan stok beras Bulog yang saat ini melimpah. "Mumpung beras bulog itu berlimpah, kami sarankan untuk ke depannya TNI, Polri, dan ASN juga mendapat beras bulog seperti Natura zaman-zaman dahulu waktu kita masih kecil-kecil," jelas Rizal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News