AMRO Memprediksi Ekonomi China Mampu Tumbuh 4,5% di 2026 dan 2027



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. China diprediksi masih mampu mencetak pertumbuhan ekonomi positif tahun ini dan tahun depan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang ekspor yang tetap tangguh serta dukungan kebijakan fiskal.

ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memprediksi ekonomi China tumbuh stabil sebesar 4,5% pada 2026 dan 2027. Di saat yang sama, lembaga ini juga mengingatkan, perekonomian China masih menghadapi ketidakpastian eksternal dan proses transisi menuju sumber pertumbuhan baru.

AMRO juga memproyeksikan inflasi konsumen, yang tercermin dari indeks harga konsumen alias consumer price index (CPI) China akan mencapai 0,8% pada 2026. Inflasi lalu meningkat menjadi 1,0% pada 2027.


AMRO menilai perekonomian China tetap tangguh meski menghadapi berbagai guncangan eksternal. Ketahanan tersebut ditopang oleh cadangan energi yang kuat, basis industri yang kokoh, serta peningkatan aktivitas global terkait akal imitasi (AI).

Baca Juga: BMW Tolak Tarif Mobil China, Pilih Kesepakatan Harga dengan Beijing

“Ekonomi China tetap tangguh meskipun menghadapi guncangan eksternal yang signifikan, didukung oleh penyangga energi yang kuat, basis industri yang kokoh, dan siklus peningkatan AI global,” kata Jae Young Lee, Group Head dan Lead Economist AMRO, dalam rilis pers, Selasa (22/9/2026).

AMRO menyebut, percepatan belanja fiskal diperkirakan akan mendukung aktivitas ekonomi pada paruh kedua tahun ini. Sementara kondisi moneter dan keuangan diprediksi tetap akomodatif.

Penyesuaian pasar properti kemungkinan akan tetap tidak merata. AMRO melihat terdapat tanda-tanda pemulihan di kota-kota tingkat pertama dan sebagian kota tingkat kedua. Namun kelemahan yang lebih berkepanjangan terjadi di kota-kota tingkat yang lebih rendah.

Di dalam negeri, penyesuaian pasar properti yang berkepanjangan dapat semakin melemahkan sektor konstruksi, kepercayaan rumah tangga, dan konsumsi, sekaligus meningkatkan risiko kredit bagi pengembang dan lembaga keuangan yang memiliki eksposur di sektor tersebut.

Baca Juga: Dilarang Meliput di Gedung Putih, Sejumlah Media Menggugat Donald Trump dan Kabinet

Kondisi pasar tenaga kerja yang terus lesu dapat mendorong peningkatan perilaku menabung sebagai langkah antisipasi dan menunda transisi menuju pertumbuhan yang lebih didorong oleh konsumsi.

Dari sisi eksternal, ekonomi China juga menghadapi risiko eskalasi konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Konflik ini dapat semakin meningkatkan biaya energi dan memperburuk nilai tukar perdagangan bagi negara asal Shaolin ini.

Ketegangan perdagangan dan teknologi yang kembali muncul dengan AS, ditambah dengan meningkatnya friksi perdagangan dengan Uni Eropa, juga dapat mengganggu rantai pasok dan menghambat ekspor.

Penurunan tajam investasi global terkait akal imitasi (AI) akan menjadi risiko tambahan, mengingat besarnya kontribusi permintaan global terhadap produk elektronik dan peralatan listrik Tiongkok dalam pertumbuhan ekspor dan manufaktur negara tersebut belakangan ini.

Menurut Lee, ketika ekonomi China terus beralih menuju sumber pertumbuhan baru, diperlukan kebijakan yang lebih tegas untuk mengatasi persoalan struktural yang telah berlangsung lama. Langkah tersebut diperlukan agar manfaat peningkatan industri dapat dirasakan lebih luas oleh rumah tangga dan memperkuat fondasi pertumbuhan domestik.