KONTAN.CO.ID-JAKARTA. ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3% pada 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang tetap tangguh dan aktivitas investasi yang kuat. Dalam hasil Annual Consultation Visit ke Indonesia pada 27 Juli hingga 20 Agustus 2026, AMRO menilai belanja pemerintah untuk sejumlah program prioritas turut menopang aktivitas ekonomi nasional.
Meski demikian, AMRO mengingatkan prospek ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketidakpastian global, tingginya harga energi dalam waktu yang berkepanjangan, serta volatilitas arus modal dinilai dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Prabowo Tiba di Vladivostok, Hadiri Eastern Economic Forum 2026 "Di tengah ketidakpastian global yang meningkat dan berbagai tantangan di dalam negeri, tingginya harga energi global yang berkepanjangan serta arus modal yang volatil membebani prospek Indonesia," ujar Group Head sekaligus Lead Economist Ravi Balakrishnan dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026). AMRO menilai berbagai kebijakan pemerintah telah diarahkan untuk menjawab kebutuhan pembangunan. Namun, efektivitas kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada desain kebijakan yang tepat, implementasi yang efektif, serta komunikasi yang jelas dan konsisten. Koordinasi antarlembaga juga dinilai penting untuk memastikan kebijakan berjalan secara kredibel dan dapat diprediksi oleh pelaku ekonomi. Selain pertumbuhan ekonomi, AMRO memproyeksikan inflasi rata-rata tahunan Indonesia mencapai 3,4% pada 2026, yang masih berada dalam kisaran target inflasi resmi. Namun, tekanan inflasi berpotensi meningkat akibat kenaikan harga energi global, dampak El Nino terhadap produksi sejumlah komoditas pertanian utama, serta dampak tertunda dari depresiasi rupiah. Dalam skenario yang lebih buruk, kombinasi faktor tersebut dapat mendorong inflasi untuk sementara berada di atas target dalam beberapa bulan mendatang. Dari sisi fiskal, tingginya harga energi global juga menjadi perhatian. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi tekanan terhadap anggaran akibat meningkatnya kebutuhan subsidi energi.
Baca Juga: Aturan Purbaya! Konsultan Pajak yang Beri Imbalan ke Petugas Bisa Dicabut Izinnya AMRO memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 tetap berada di 2,8% dari PDB, atau masih di bawah batas maksimum 3% dari PDB.
Kenaikan penerimaan dari perbaikan administrasi perpajakan diharapkan dapat mengimbangi peningkatan belanja subsidi energi dan program prioritas pemerintah. AMRO juga menekankan pentingnya menjaga peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kebijakan yang kredibel dan konsisten dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan investor. "Menjaga kewenangan bank sentral agar tetap dapat berfokus pada stabilitas makroekonomi dan keuangan juga penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan," katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News