Amstelco membidik rights issue US$ 500 juta



JAKARTA. PT Amstelco Indonesia Tbk kembali mengumumkan rencana mengejutkan. Emiten berkode saham INCF ini berniat menerbitkan saham baru atau rights issue di semester I-2013. Dari aksi itu, Amstelco membidik dana sekitar US$ 300 juta-US$ 500 juta.

Presiden Direktur Amstelco, Dody Nawangsidi, mengakui perseroan perlu menyampaikan rencana itu untuk menunjukkan kelangsungan bisnis Amstelco kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Maklum, otoritas bursa mengancam bakal mengeluarkan paksa (force delisting) Amstelco dari daftar emiten di BEI.

BEI gerah dengan perkembangan usaha Amstelco. Pasalnya, manajemen Amstelco tak membuat terobosan penting setelah beralih usaha dari bisnis pembiayaan (multifinance) ke bisnis minyak dan gas (migas).


Perdagangan saham INCF pun sudah dihentikan sementara (suspensi) sejak 20 Januari 2011. Faktor inilah yang kemudian membuat BEI mengancam Amstelco dengan force delisting.

Untuk meyakinkan BEI, Amstelco mengklaim sudah mempersiapkan proses rights issue dengan baik. Amstelco bersama perusahaan-perusahaan afiliasinya terus mengembangkan dan menjalankan aktivitas dalam bidang infrastruktur gas, indonesian participation rights dan direct upstream oil and gas.

"Sejauh ini yang telah kami lakukan antara lain merestrukturisasi aset-aset kami, perusahaan patungan serta proyek lainnya yang dikombinasikan dengan pendanaan ekuitas yang signifikan," kata Dody dalam keterangan resminya, Rabu (5/9) malam.

Amstelco juga sudah menunjuk beberapa lembaga untuk memperlancar proses restrukturisasi. Lembaga itu antara lain Price Waterhouse Cooper sebagai auditor, Bank Standard Chartered sebagai penasehat keuangan dan lead debt provide. Adapun Milbank dan ABNR sebagai penasihat hukum.

Proses restrukturisasi ditargetkan rampung pada semester I 2013. Kemudian Amstelco menerbitkan saham baru yang akan ditawarkan ke investor dalam negeri maupun luar negeri.

Kiswoyo Adi Joe, Managing Partner Investa Saran Mandiri, menilai rights issue Amstelco tak prospektif. Sebab, bisnisnya tak jelas. "Apalagi sahamnya sudah lama disuspensi," jelas Kiswoyo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sandy Baskoro