KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masuknya pendanaan besar ke sejumlah startup lokal dinilai menjadi angin segar bagi industri startup Indonesia setelah menurunnya kepercayaan investor. Asal tahu saja, belum lama ini beberapa start up lokal mendapat injeksi modal, seperti McEasy yang mendapat injeksi pendanaan seri B sebesar US$ 9 juta dari Eftsure, kemudian Ajaib juga mengantongi pendanan Rp 4,8 triliun dari SBI Holdings. Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo), Eddi Danusaputro menilai kondisi tersebut menjadi validasi bahwa fase konsolidasi atau tech winter telah menghasilkan ekosistem digital yang lebih sehat.
Menurutnya, tren pendanaan startup saat ini menunjukkan fenomena flight to quality. Di mana, investor tidak menahan dana, tetapi mengalokasikannya secara lebih terarah kepada startup yang telah membuktikan ketangguhan model bisnisnya.
Baca Juga: Pendanaan Startup di Indonesia Masih Prospektif, Tapi Investor Bakal Lebih Selektif Adapun startup yang mampu bertahan juga dinilai dari beberapa faktor, seperti telah beroperasi secara lebih efisien dan transparan, serta mengedepankan tata kelola perusahaan (good corporate governance/GCG) yang baik. Sejalan dengan kembalinya kepercayaan investor, Eddi menyebut metrik utama yang kini menjadi perhatian pemodal adalah unit economics yang positif serta jalur menuju profitabilitas (path to profitability) yang terukur sejak awal. Dari sisi sektoral, investor disebut masih melirik sejumlah bidang yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan. "Di antaranya solusi business-to-business (B2B) SaaS dan logistik yang mampu mendorong efisiensi rantai pasok industri," kata dia kepada Kontan pada Jumat malam (28/8/2026). Selain itu, sektor fintech juga dinilai masih menarik karena industri ini terus memperluas ruang inklusi keuangan. Amvesindo juga menilai bisnis yang mengadopsi teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) sebagai enabler untuk mendisrupsi proses konvensional di sektor riil pun menjadi perhatian investor.
Baca Juga: Jumlah Startup di RI Belum Diimbangi Kualitas, Ekonom Sorot Kepercayaan Investor Terkait total pendanaan yang masuk ke startup Indonesia sepanjang 2026, Amvesindo masih mengumpulkan data riil dari seluruh anggota untuk kuartal berjalan. Yang pasti, meski dari sisi volume kesepakatan (deal volume) investor bertindak lebih selektif, munculnya pendanaan dengan nilai triliunan rupiah dinilai jadi indikator bahwa nilai investasi (deal value) masih solid. "Melihat momentum pemulihan ini, prospek pendanaan hingga akhir tahun tetap sangat menjanjikan," kata Eddi. Namun, Amvesindo menilai peluang munculnya unicorn baru bukan lagi menjadi fokus utama industri startup. Sebab, sebutan atau label berdasarkan valuasi dinilai sudah tidak lagi relevan sebagai tolok ukur utama.
Menurutnya ekosistem startup kini dinilai telah kembali pada prinsip business as usual, yakni beroperasi layaknya entitas bisnis pada umumnya. "Kami tidak lagi menjadikan nilai valuasi sebagai bahan utama atau tolak ukur tunggal keberhasilan. Namun, murni berfokus pada penciptaan arus kas yang sehat, laba operasional, dan pertumbuhan fundamental bisnis yang berkelanjutan," tandas Eddi.
Baca Juga: Ekosistem Startup Indonesia Tertinggal, INDEF Soroti Masalah Pendanaan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News