Amvesindo Proyeksikan NPF Modal Ventura Berangsur Stabil hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) memproyeksikan tekanan non-performing financing (NPF) neto industri modal ventura akan berangsur stabil hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut menyusul kenaikan NPF neto industri menjadi 2,02% pada Juli 2026.

Ketua Umum Amvesindo Eddi Danusaputro menilai kenaikan NPF tersebut merupakan bagian dari dinamika industri di tengah fase konsolidasi dan belum mencerminkan pelemahan sistemik pada ekosistem startup.

Menurutnya, struktur industri modal ventura yang terdiri atas pembiayaan ekuitas (venture capital company/VCC) dan pembiayaan produktif (venture debt company/VDC) membuat kenaikan NPF lebih banyak merefleksikan tekanan kualitas pada portofolio pembiayaan di lini VDC.


Baca Juga: PT AIA Syariah Insurance Resmi Beroperasi Setelah Kantongi Izin OJK

Berdasarkan evaluasi Amvesindo, kenaikan NPF pada lini tersebut terutama dipicu oleh dua kondisi pada sejumlah Pasangan Usaha atau debitur eksisting. Pertama, terjadi cash flow mismatch akibat penundaan pembayaran (delay payment) dari pihak pemberi kerja atau bouwheer.

Kedua, terdapat indikasi side-streaming, yakni sebagian dana modal kerja dialihkan oleh Pasangan Usaha untuk keperluan di luar peruntukan yang telah disepakati.

Terhambatnya arus kas tersebut kemudian menekan realisasi pendapatan bagi hasil perusahaan modal ventura. Di sisi lain, biaya operasional tetap berjalan sehingga turut mendorong kenaikan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO).

Meski demikian, Amvesindo menilai kondisi tersebut belum mengganggu kinerja industri secara keseluruhan. Hal ini tercermin dari laba industri modal ventura yang masih tumbuh positif sebesar 1,91%.

Meskipun mengalami kenaikan, untuk ke depannya Amvesindo memproyeksikan tekanan NPF bersifat sementara dan akan berangsur stabil hingga akhir 2026. 

Oleh karena itu, untuk menjaga kualitas portofolio, pelaku industri diharapkan bisa menerapkan strategi penyaluran pembiayaan secara lebih prudent.

Pada entitas VCC, strategi diarahkan pada pemberian pendanaan lanjutan (follow-on funding) kepada portofolio eksisting yang dinilai memiliki kepastian profitabilitas.

Sementara itu, entitas VDC akan lebih fokus menyalurkan pembiayaan kepada sektor riil dengan karakteristik perputaran arus kas yang relatif cepat. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya.

Baca Juga: Inflasi Medis Capai 17,8%-17,9%, Klaim Asuransi Jiwa Berpotensi Membesar

Selain seleksi pembiayaan, Amvesindo melihat transformasi fungsi investor menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kualitas portofolio. Perusahaan modal ventura kini tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan modal, tetapi juga meningkatkan pendampingan atau mentorship kepada Pasangan Usaha.

Pendampingan tersebut dilakukan dengan pengawasan yang lebih intensif terhadap kedisiplinan finansial founder atau Pasangan Usaha. Langkah ini ditujukan untuk mencegah terjadinya side-streaming sekaligus menjaga keberlanjutan arus kas bisnis.

Dengan penguatan seleksi pembiayaan, fokus pada sektor dengan perputaran kas yang lebih cepat, serta pendampingan yang lebih intensif, Amvesindo melihat kualitas portofolio industri modal ventura berpeluang membaik dan tekanan NPF dapat berangsur mereda hingga akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News