Analis asing: Ekonomi Arab Saudi di ujung tanduk



NEW YORK. Dua tahun lalu, Zach Schreiber dengan tepat meramal kejatuhan epik harga minyak dunia. Saat ini, dia mengingatkan lagi akan kemungkinan terjadinya krisis finansial di Arab Saudi.

Prediksinya yang dibuat pada 2014 lalu berhasil mendatangkan keuntungan senilai US$ 1 miliar bagi perusahaannya. Saat Schreiber berbicara, semua orang duduk dan mendengarkan.

"Jika Anda masih berada di posisi long, saya ikut merasa kasihan," kata CEO hedge fund PointState Capital saat dia membuat taruhan dua tahun lalu dan posisi harga minyak masih di atas US$ 100 per barel.


Ternyata, ramalannya menjadi kenyataan. Harga minyak bahkan sempat jatuh ke level US$ 26 Februari lalu. Kondisi itu membuat pemerintah Arab Saudi dan negara lain yang sangat bergantung dengan minyak sakit kepala. Pasalnya, anggaran belanja mereka sudah dipastikan akan terpangkas.

Arab Saudi, misalnya, sudah menggunting anggaran belanja dan tengah berupaya keras untuk mendongkrak pendapatan. Pekan kemarin, Arab Saudi juga memecat menteri perminyakan mereka yang sudah menjabat selama 21 tahun.

Schreiber percaya, kondisi ekonomi Arab Saudi akan semakin memburuk.

"Saudi memiliki dua atau tiga tahun untuk lepas landas sebelum akhirnya menabrak dinding," jelas Schreiber saat 21st Annual Sohn Investment Conference pada pekan lalu.

Pernyataannya pada konferensi tersebut mengingatkan pada peringatan Schreiber tentang harga minyak tahun 2014 lalu.

Schreiber meramal, Arab Saudi menghadapi dua ancaman besar terhadap perekonomian mereka. Yakni, komitmen besarnya anggaran belanja dan murahnya harga minyak.

"Tak heran saat ini Arab Saudi merilis banyak sekali obligasi," jelasnya.

Pangkas subsidi

Setelah bertahun-tahun mendapatkan uang dengan sangat mudah dari minyak, belakangan ini, mesin uang Arab Saudi tersendat. Negara kerajaan tersebut dikabarkan berencana menarik pinjaman senilai US$ 10 miliar dari sejumlah bank. Bahkan, mereka mempertimbangkan untuk merilis obligasi internasional pertama mereka.

Masalahnya adalah Arab Saudi membutuhkan harga minyak kembali ke posisi US$ 100 per barel sehingga bisa menyeimbangkan anggaran belanja mereka.

Pengeluaran Arab Saudi banyak terpakai pada pemberian tunjangan warga mereka yang populasinya hampir mencapai 30 juta orang. Saat ini, tunjangan subsidi tersebut terpaksa dihentikan. Salah satunya dengan menaikkan harga bensin sebesar 50%.

Arab Saudi juga memiliki anggaran militer yang besar mengingat kondisi geopolitik Timur Tengah yang sangat rentan. Meski begitu, anggaran militer mereka tetap dipangkas sebesar 3,6% tahun ini akibat anjloknya harga minyak.

Memang, bank sentral Arab Saudi dikabarkan memiliki dana tabungan untuk masa sulit sebesar US$ 600 miliar. Namun, jumlahnya sudah berkurang sekitar US$ 140 miliar pada kurun waktu akhir 2014 hingga Februari lalu.

Schreiber berargumen, neraca perdagangan Arab Saudi terlalu dilebih-lebihkan. Dia merujuk pada nilai libilitas yang hampir mencapai US$ 340 miliar yang memangkas nilai dana cadangan.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa Arab Saudi berencana menjual 5% saham perusahaan milik kerajaan: Aramco.

"Jika mereka menjual saham Aramco, bagaimana mereka mendanai hal lainnya? Ini gila. Saudi menggadaikan masa depan mereka dan tengah membeli waktu saat ini," jelasnya.

Pada saat yang sama, Schreiber masih bearish terhadap harga minyak untuk jangka menengah-panjang.

"Mari berharap yang terbaik dan mempersiapkan yang terburuk," kata Schreiber. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie