Analis: Harga batubara hingga akhir tahun masih di atas US$ 100



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) bagian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menyebutkan bahwa saat ini harga batubara mencapai rata-rata US$ 98,93 per ton. Angka ini lebih tinggi dibanding posisi tahun lalu di mana harga batubara dari Januari hingga Agustus di level US$ 82,02 per ton. Pengamat memprediksi, hingga akhir tahun ini harga batubara akan berkisar US$ 100 per ton.

Menurut ekonom Muhammad Faisal dari lembaga kajian CORE (Center of Reform on Economics), prediksi harga batubara hingga akhir tahun 2018 adalah berkisar US$ 100 hingga US$ 110. Hal ini juga tidak terlepas dari tingginya ekspor batubara ke negara-negara yang sedang mengalami musim dingin.

“Saya pikir sih masih di atas US$ 100 per ton, mungkin sekitar US$ 110 kali ya,” kata Faisal saat dihubungi KONTAN.CO.ID, Jumat (14/9).


Menurut Faisal, ada dua penyebab kenaikan harga batubara ini. Yakni, pengaruh kenaikan harga minyak dan faktor demand-supply.

“Yang pertama biasanya untuk komoditas energi banyak itu juga mengikuti pengaruh harga minyak, jadi kalau harga minyak naik, yang substitusinya cenderung mengikuti. Yang kedua, faktor demand dari China itu masih relatif tinggi untuk batu bara, sehingga turut mendorong harga batubara. Kalau dari sisi supply, ada beberapa kebijakan tertentu ikut mempengaruhi walaupun tidak terlalu besar,” ujarnya.

Faisal menyebutkan bahwa faktor kebijakan pemerintah domestic market obligation atau kewajiban memasok kebutuhan barang dalam negeri, sejauh ini juga mempengaruhi kenaikan harga batubara. Namun, hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi global yang terjadi di seluruh negara.

Sementara, menurut Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar, penyebab kenaikan batubara akhir tahun adalah akibat penggunaan batubara sebagi bahan bakar untuk mesin-mesin penghangat yang banyak digunakan di negara yang memiliki musim dingin, seperti China, Amerika dan Eropa.

“Ini kan sudah memasuki musim dingin. Artinya permintaan batubara cukup besar sebagai pembangkit mesin penghangat bagi negara Eropa dan Amerika Serikat. Permintaan China cukup tinggi karena kita tahu hampir semua pembangkit menggunakan energi batubara,” kata Deddy.

Selain itu, Deddy menyebutkan bahwa berdasarkan laporan Fitch Ratings, faktor defisit dari gas alam di dunia semakin melemah. Hal ini kemudian yang menjadikan harga batubara mampu terus berguling ke atas dengan posisi nilai yang tetap terjaga.

“Dari laporan Fitch Ratings, gas alam diprediksi akan mengalami defisit dari tahun 2020 sampai 2022 ya, artinya dengan defisitnya gas alam ini menjadi peluang bagi batubara di mana permintaan batubara masih cukup tinggi dan masih tetap terjaga. Ini yang membuat harga batubara bergulir ke atas US$ 100 per ton. Ini juga akan memungkinkan batubara menguat harganya sampai dengan akhir tahun 2018,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie