Analis: Kondisi Indonesia jauh dari krisis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Terpuruknya rupiah ke level Rp 14.938 per dollar AS, tak lepas dari kondisi krisisnya global. Krisis emerging market makin serius. Setelah, Turki, Argentina, Venezuela, Iran, India, kini Afrika Selatan juga tertular. Hal ini membuat sentimen terhadap emerging market semakin buruk. Indonesia pun terkena dampaknya.

Kondisi di emerging market memicu kecemasan baru bahwa risiko guncangan ekonomi kali ini terlalu besar untuk diabaikan. Alhasil, dollar AS menjadi pilihan investor untuk mengamankan asetnya.

Senior Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menyatakan, tidak ada sinyal khusus untuk Indonesia pesimis dengan kondisi saat ini. William melihat, pelemahan rupiah dari awal tahun sampai saat ini hanya sekitar 7%.


“Bila dibandingkan dengan mata uang Turki dan Argentina tidaklah sama. Pelemahan rupiah saat ini karena euforia kebijakan Amerika akan emerging market. Tetapi dari sisi internal, Indonesia lebih kondusif karena rasio utang ke PDB masih di bawah 30%,” ujar William kepada KONTAN, Rabu (5/9).

William pun mengatakan bahwa Indonesia masih jauh dari indikator krisis. Hanya saja memang pasar dan pelaku pasar terlalu agresif dalam merespons pelemahan rupiah serta kondisi global. “Tidak ada tanda-tanda yang mengharuskan Indonesia krisis, dan sangat jauh dari kondisi ekonomi pada tahun 1998 atau 2008,” pungkasnya.

Secara internal, William bilang fundamental pasar masih kondusif dan tergolong positif. Jika melihat perekonomian Afrika Selatan yang lemah, William memproyeksi indikator ekonomi Mesir, Pakistan, Meksiko dan India selanjutnya akan lemah.

“Prediksi yang terdekat Mesir dan Pakistan akan menyusul Turki, Argentina dan Afsel. Kalau begitu, pasar kita juga akan turun, ditambah sentimen The Fed yang menaikkan suku bunganya lagi,” tandasnya.

Karena kondisi pelemahan rupiah itulah, William menyarankan neraca perdagangan dan kebijakan moneter Amerika Serikat harus jadi perhatian Pemerintah. Meski The Fed tidak bisa diubah. Tetapi kebijakan Pemerintah menaikkan suku bunga sudah cukup tepat. Dan saat ini pembatasan impor sudah menjadi langkah yang signifikan untuk dijalankan.

“Tidak bisa dirasakan saat ini atau besok, mungkin hasilnya di akhir September seiring data inflasi. Yang harus dilakukan pelaku pasar dan khususnya masyarakat adalah mengurangi porsi dollar. Akan lebih baik membeli barang dalam negeri dan mengurangi kurs dollar. Fokus menggunakan rupiah dalam negeri,” sebut William.

William memperkirakan IHSG sepanjang September akan turbulensi. Berbeda dengan resesi tahun 1998 dan 2008, rebound pasar hanya butuh waktu 6 sampai 12 bulan. Kalaupun IHSG turun, paling cepat enam bulan kembali bangkit. Terlebih menyambut tahun politik yaitu pemilu yang membuat pasar akan bergairah. “Bulan depan market akan kembali, dan tahun depan tembus 6.000-an. Untuk tahun ini masih kami review akan revisi lagi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia