KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak di pasar saham masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seiring dinamika pergantian kepemimpinan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta rencana percepatan peningkatan free float saham. Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai pelemahan tajam IHSG mencapai 4,88% mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor, terutama menyikapi ketidakpastian arah kebijakan ke depan. “IHSG tertekan karena supply saham akan semakin besar, sementara demand justru melemah akibat keluarnya investor asing yang sedang rebalancing,” ujar Budi kepada Kontan, Senin (2/2/2026).
Baca Juga: IHSG Anjlok 4,88% pada Senin (2/2), Ini Pesan OJK untuk Investor Menurutnya, rencana percepatan kenaikan free float justru berpotensi menjadi tekanan baru bagi pasar jika tidak dibarengi penguatan permintaan. “Free float naik artinya penawaran saham bertambah, tapi minat beli belum tentu ikut naik. Ini bisa makin menekan harga,” jelasnya. Budi menekankan, figur pimpinan BEI dan OJK ke depan harus mampu segera merangkul pelaku pasar sekaligus memenuhi tuntutan MSCI terkait transparansi dan regulasi yang lebih bersahabat bagi investor. Ia juga mengingatkan investor domestik agar tidak panik mengikuti aksi jual. “Yang terpaksa jual itu biasanya investor margin dan asing yang sedang rebalancing,” katanya. Untuk meredam volatilitas, Budi mendorong sejumlah langkah konkret, mulai dari buyback saham oleh emiten, masuknya Danantara ke pasar saham, hingga peran aktif institusi pemerintah dengan dana besar untuk menopang likuiditas. Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai peningkatan free float tidak otomatis berkorelasi positif terhadap kinerja harga saham maupun likuiditas pasar.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Melemah, Cermati Saham Rekomendasi Analis untuk Selasa (3/2) “Free float besar tidak menjamin saham jadi menarik atau sehat. Banyak saham gocap free float-nya besar, tapi tetap digoreng,” tegas Harry. Menurutnya, penguatan pasar seharusnya bertumpu pada mekanisme kebebasan pasar yang ditopang transparansi data. “Saham itu memperdagangkan keyakinan. Selama data dibuka jelas, biarkan pasar yang menentukan valuasinya,” ujarnya. Harry juga mengingatkan risiko tekanan harga jika penambahan free float tidak mampu diserap pasar. Ia mencontohkan penambahan free float saham BREN sebesar 2,7% saja setara dengan sekitar Rp30 triliun. “Kalau tidak tertampung, harga akan makin turun dan membebani bursa,” pungkasnya.
Dengan berbagai ketidakpastian tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap wait and see, sembari mencermati arah kebijakan regulator dan respons investor global terhadap reformasi pasar modal yang tengah disiapkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News