KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menatap 2026 dengan target kinerja yang agresif, yakni pendapatan Rp5,1 triliun dan laba bersih di atas Rp700 miliar. Sejumlah analis menilai target tersebut ambisius, namun masih berada dalam batas realistis seiring ekspansi kapasitas produksi dan pertumbuhan ekspor. Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan, pencapaian target IMPC sangat bergantung pada keberlanjutan permintaan sektor konstruksi dan renovasi domestik, serta kontribusi ekspor yang terus meningkat. “Kami menilai target IMPC pada 2026 relatif ambisius namun masih realistis, dengan catatan permintaan konstruksi dan renovasi domestik tetap tinggi serta ekspor, khususnya produk Alderon, terus tumbuh,” ujar Miftah kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga: Draft Aturan Baru BEI: Syarat IPO Diperketat, Biaya dan Free Float Disesuaikan Ia menambahkan, aksi
buyback saham hingga Rp500 miliar yang baru diumumkan manajemen menjadi sinyal positif ke pasar. Langkah ini dinilai mampu menopang harga saham di tengah volatilitas global sekaligus mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap prospek bisnis perseroan. “Aksi
buyback cukup positif sebagai sinyal
confidence manajemen sekaligus berpotensi menjaga stabilitas harga saham di tengah tekanan eksternal,” imbuhnya. Dari sisi pertumbuhan, ekspor kini menyumbang sekitar 33% dari total pendapatan IMPC, terutama melalui produk atap Alderon. Miftahul menilai pasar Asia dan
emerging markets masih menawarkan ruang ekspansi yang besar, meskipun tetap perlu diantisipasi risiko nilai tukar dan perlambatan ekonomi global. Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kunci utama pertumbuhan IMPC ke depan terletak pada beroperasinya pabrik baru di Batang, Jawa Tengah. Fasilitas tersebut dinilai mampu menghilangkan hambatan kapasitas produksi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya. “Target manajemen optimistis tapi masih realistis. Kuncinya ada di pabrik Batang yang akan menaikkan kapasitas sekaligus efisiensi produksi,” kata Wafi. Menurutnya, porsi ekspor yang besar juga menjadi
natural hedging di tengah tren pelemahan rupiah, sekaligus mengurangi ketergantungan IMPC terhadap siklus properti domestik. “Ekspor bukan cuma mesin pertumbuhan, tapi juga diversifikasi risiko,” tambahnya. Dari sisi valuasi, Wafi menilai kombinasi ekspansi kapasitas, pertumbuhan laba, serta aksi
buyback berpotensi mendorong re rating saham IMPC. “Kalau target laba bisa tercapai secara konsisten, pasar bisa mulai melihat IMPC sebagai emiten
quality growth yang layak dihargai premium,” ujarnya. Sementara itu, Miftah melihat peluang re rating tetap terbuka, meskipun investor saat ini cenderung masih wait and see sembari menunggu realisasi kinerja yang berkelanjutan. Dari sisi korporasi, IMPC resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai maksimal Rp500 miliar dalam periode 3 Februari hingga 2 Mei 2026.
Buyback dilakukan tanpa persetujuan RUPS sesuai POJK 13 tahun 2023, dengan estimasi jumlah saham yang dibeli kembali sekitar 166,13 juta lembar atau setara 0,30% dari modal disetor. Manajemen menyatakan pendanaan
buyback berasal dari dana internal dan tidak berdampak material terhadap operasional. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, aksi ini diperkirakan meningkatkan laba per saham dari 8,58 menjadi 8,60. Untuk prospek jangka menengah, Wafi memperkirakan pendapatan IMPC berpotensi tumbuh
double digit di kisaran 15% hingga 20% per tahun seiring ekspansi kapasitas dan penguatan ekspor.
Ia merekomendasikan saham IMPC dengan level beli di sekitar Rp2.400 per saham.
Baca Juga: CUAN Gelar Buyback Saham Hingga Rp 750 Miliar, Ini Tujuan dan Periode Pelaksanaannya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News