KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) pada kuartal III-2017 cukup kuat. Namun, ada potensi pelambatan proyek kereta cepat alias high-speed railway (HRS) Jakarta-Bandung. Hal ini disinyalir akan membebani emiten konstruksi pelat merah ini. Sekadar mengingatkan, proyek HRS Jakarta-Bandung yang dikerjakan di bawah konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memiliki nilai kontrak sebesar Rp 15,68 triliun. Konsorsium tersebut terdiri dari tujuh perusahaan yakni China Railway International, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), China Rail Way Group Limited, Sinohydro Corporation Limited, CRCC Wingdao Sifang Co, Ltd, China Railway Signal & Communication Corporation dan The Third Railway Survey Design Institute Group Corporation. WIKA menggenggam porsi 30% dari nilai kontrak enginering, procurement, construction (EPC) ini. Melalui konsorsium ini, KCIC berhasil mendapatkan restu pendanaan dari China Development Bank (CDB) sejak April lalu. Namun analis Mirae Asset Sekuritas Franky Rivan menjelaskan, kucuran kredit belum terlihat sama sekali dan dapat menyeret kas emiten.
Analis pangkas rekomendasi WIKA, ini alasannya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) pada kuartal III-2017 cukup kuat. Namun, ada potensi pelambatan proyek kereta cepat alias high-speed railway (HRS) Jakarta-Bandung. Hal ini disinyalir akan membebani emiten konstruksi pelat merah ini. Sekadar mengingatkan, proyek HRS Jakarta-Bandung yang dikerjakan di bawah konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memiliki nilai kontrak sebesar Rp 15,68 triliun. Konsorsium tersebut terdiri dari tujuh perusahaan yakni China Railway International, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), China Rail Way Group Limited, Sinohydro Corporation Limited, CRCC Wingdao Sifang Co, Ltd, China Railway Signal & Communication Corporation dan The Third Railway Survey Design Institute Group Corporation. WIKA menggenggam porsi 30% dari nilai kontrak enginering, procurement, construction (EPC) ini. Melalui konsorsium ini, KCIC berhasil mendapatkan restu pendanaan dari China Development Bank (CDB) sejak April lalu. Namun analis Mirae Asset Sekuritas Franky Rivan menjelaskan, kucuran kredit belum terlihat sama sekali dan dapat menyeret kas emiten.