Analis rekomendasikan beli Bitcoin saat harga di bawah US$ 35.000



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin memperlihatkan tren pelemahan. Mengutip Coinmarketcap.com, Jumat (15/1) pukul 17.45 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 38.403 per BTC, turun 0,93% dibanding perdagangan hari sebelumnya yang berada di US$ 38.765 per BTC. 

Dalam sepekan, Bitcoin pun sudah melemah 3,45% setelah di akhir pekan lalu berada di level US$ 39.846 per BTC.

Mengutip Bloomberg, harga Bitcoin sempat menyentuh rekor tertinggi saat berada di level US$ 40.858 per BTC pada 9 Januari silam.


Presiden Komisioner HFX International Sutopo Widodo mengatakan, koreksi harga Bitcoin lebih dikarenakan adanya aksi ambil untung dalam jangka pendek yang dilakukan para investor. Ia menambahkan, aset kripto sebenarnya sedang dinaungi sentimen negatif, namun hal tersebut ternyata tak membuat Bitcoin ambruk.

Baca Juga: Koreksi harga bitcoin disebut sebagai tren yang wajar

“Kenaikan harga Bitcoin seolah mengabaikan komentar dari Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde yang mengatakan bahwa Bitcoin perlu diatur pada tingkat global dan menyebut mata uang digital sebagai aset yang sangat spekulatif yang telah melakukan beberapa bisnis lucu," kata dia ketika dihubungi Kontan.co.id, Jumat (15/1).

Sutopo juga meyakinkan, bahwa aset kripto setiap tahunnya sangat mungkin mengalami kenaikan lebih dari 36%. Sehingga ketika terjadi koreksi dan volatilitas sebenarnya merupakan hal yang wajar.

Sepanjang tahun  ini saja, harga Bitcoin sudah menanjak 32,44%. Mengingat di akhri tahun 2020 silam, harga Bitcoin masih bertengger di level US$ 28.996 per BTC.

Ke depan, Sutopo optimistis tren positif masih akan menyelimuti pergerakan harga Bitcoin. Sentimen positif pertama datang dari aksi halving day

Ia bilang, nantinya hanya akan ada 21 juta Bitcoin di dunia. Padahal saat ini, jumlah Bitcoin yang beredar sudah mencapai 18,6 juta. Dus, dengan peluang jumlah Bitcoin akan semakin terbatas, maka harganya akan semakin naik.

Kedua, semakin banyak negara yang akan melegalkan Bitcoin. Namun, Sutopo mengingatkan, Bitcoin yang semula dibuat agar tidak terpengaruh sisi fundamental dunia, politik dan ekonomi, nyatanya kini ikut terpengaruh. Sehingga, kondisi politik maupun ekonomi dunia ke depan bisa ikut mempengaruhi harga Bitcoin.

“Sementara untuk pergerakan aset kripto yang lain juga mayoritas memiliki sentimen yang sama dengan Bitcoin dan mengekor tren Bitcoin. Kecuali aset kripto yang memiliki underlying asset seperti emas tentu akan mengikuti harga gold. Lalu stable coin yang memiliki underlying asset mata uang, tentu nilainya sama dengan nilai currency,” ungkap dia. 

Editor: Anna Suci Perwitasari