Analis rekomendasikan beli saham ADRO



JAKARTA. Kabar menggembirakan datang dari harga batubara. Per September tahun ini harga batubara acuan (HBA) menanjak 9,5% menjadi US$ 63,93 per ton dibanding Agustus US$ 58,37 per ton.

Kenaikan harga tersebut dikarenakan ekonomi China yang mulai memanas membuat kebutuhan batubara di negeri tersebut melonjak.

Sebagai perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT Adaro Energy Tbk (ADRO) pasti ikut merasakan dampak positif dari lonjakan harga batubara.


Selain kondisi ekonomi China, kenaikan harga tersebut juga didorong oleh produksi batubara dari China yang terus menurun sehingga impor batubara dari China semakin banyak.

Menurut Christian Saortua, analis Minna Padi Investama sekitar 24% penjualan batubara ADRO diserap domestik, lalu 16% diekspor ke India, dan China menyerap 14%.

Dengan melihat wilayah geografis konsumen, perusahaan akan menuai manfaat dari peningkatan HBA dan meningkatnya permintaan untuk mendukung program kelistrikan pemerintah 35.000 mega watt (MW).

Menurut Sharlita Malik analis Samuel Sekuritas dari segi ekspor kemungkinan ADRO masih akan tetap stabil. Namun dengan kenaikan harga batubara, akan lebih menaikkan average selling price atau harga jual rata-rata ke depannya sehingga perusahaan bisa meraup untung lebih banyak lagi.

"Untuk produksi kami perkirakan masih akan tetap sama, tidak akan ditambahkan," kata Sharlita kepada KONTAN, Kamis (15/09).

Manajemen memproyeksi sepanjang tahun ini bisa memproduksi 52 sampai 54 juta ton batubara. Sementara sepanjang paruh pertama di tahun ini, produksi batubara mencapai 25,86 juta ton, angka tersebut relatif sama dengan semester pertama tahun lalu.

Lalu, ADRO juga berhasil membukukan laba bersih US$ 128 juta di semester I-2016 atau naik tipis 0,14% dari periode sama tahun lalu US$ 127,3 juta. Raihan laba bersih tersebut didorong oleh kenaikan penjualan ADRO sebesar 19% menjadi US$ 1,18 miliar dibanding semester I-2015 sebesar US$ 1,4 miliar.

Editor: Yudho Winarto