Analis: Saham batubara rawan profit taking



JAKARTA. Penutupan Indeks Harga Saham Gabungan hari Rabu (26/7) menunjukkan kinerja yang positif untuk berbagai saham emiten batubara. Dari 10 saham top gainers penutupan IHSG hari ini, tiga diantaranya bergerak di bisnis tambang batubara, yakni PT Benakat Integra Tbk (BIPI) yang naik 9,71% ke harga Rp 113, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) naik 9,56% ke level Rp 745 dan PT Timah Tbk (TINS) naik 9,4% ke Rp 815 per saham.

David Sutyanto, analis First Asia Capital melihat, kenaiklan saham tersebut tidak terlalu besar lantaran memiliki potensi profit taking yang juga besar. "Begitu naik 2%-3% kemudian profit taking," jelas David saat dihubungi KONTAN, Rabu (26/7).

David memperhatikan, termin investor dalam saham terlihat semakin pendek demi menjauhi risiko sentimen negatif. Selain itu, memang merupakan psikologi investor bila melihat sedikit kenaikan saham akan segera profit taking.


David menyatakan, potensi kenaikan IHSG menjadi lebih berat di level 5.800 saat ini. Target pertumbuhan IHSG untuk tahun 2017 yang berada di kisaran 6.000 akan membawa semakin banyak potensi risiko. "Ibarat naik gedung tinggi maka kemungkinan jatuh akan semakin sakit, sehingga orang akan menjauhi risiko, jadi begitu naik segera exit," jelas David.

Pertumbuhan saham batubara memang terbukti mengikuti permintaan pasar global. China dan Amerika Serikat (AS) yang senantiasa menambah impor batubara menjadikan bisnis komoditas sektor ini memiliki prospek yang sangat baik. David memperhatikan, China mengikuti tren AS. Walau memiliki cadangan minyak yang besar, AS lebih memilih untuk mengimpor dari negara lain.

Tak hanya itu, membuka lahan untuk penambangan batubara memiliki konsekuensi yang cukup besar bagi lingkungan. David melihat hal tersebut sebagai sentimen tambahan bagi negara asing untuk meningkatkan pembelian batubara dari Indonesia. "Karena batubara bukan renewable resources, jadi kalau cadangan kita habis ya sudah selesai, jadi kenapa menambang kalau masih bisa beli," papar David.

David melihat fluktuasi harga saham tambang ini sebagai hal yang normal. Pasalnya sudah merupakan logika pasar saat melihat emiten naik sedikit untuk segera melakukan profit taking.

Tak hanya itu, walau terdapat banyak sentimen positif untuk komoditas batubara, pelaku pasar modal memang cenderung tidak memilih investasi jangka panjang. "Harga komoditasnya tiap hari naik turun, dan sentimennya masih mix," kata David

David menyarankan untuk buy jangka menengah saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) dan Adaro Energy Tbk (ADRO), serta pembelian jangka pendek di PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati