KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kinerja fundamental yang solid pada 2025. Meski profitabilitas bank cenderung tertekan, fase itu dinilai tak bakal bertahan untuk jangka waktu panjang. Hingga akhir tahun 2025, BBNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Menurut Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, pertumbuhan tersebut didukung oleh ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif. Jika dibedah, pertumbuhan kredit BNI terutama masih ditopang oleh segmen business banking dengan catatan outstanding sebesar Rp 725,1 triliun, tumbuh 17,5%. Kredit korporasi mendominasi, dengan penyaluran ke perusahaan swasta sebesar Rp 336,3 triliun dan BUMN sebesar Rp 181,9 triliun. Untuk diketahui, kredit untuk BUMN itu tumbuh hingga 59,9% yoy.
Baca Juga: BNI (BBNI) Cetak Laba Bersih Rp 20 Triliun, Turun 6,97% Secara Tahunan Namun, laba bersih BBNI terkoreksi sebesar 6,6% yoy menjadi Rp 20 triliun. Itu sejalan dengan penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 0,4% yoy menjadi Rp 40,3 triliun dan peningkatan pencadangan bank sebesar 18,4% yoy menjadi Rp 9,72 triliun. Untungnya, fee based income bank tumbuh 11,1% yoy menjadi Rp 18,4 triliun. Sejalan dengan koreksi pada pos laba, NIM bank juga turun ke posisi 3,8% dari 4,2% pada tahun sebelumnya. Kendati begitu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer menilai prospek BBNI pada 2026 masih relatif lebih baik dibandingkan perbankan lain, meskipun pertumbuhannya tidak agresif. Menurutnya, koreksi laba BBNI pada 2025 lebih mencerminkan fase normalisasi margin, bukan pelemahan struktural. Tekanan terhadap laba akibat penurunan net interest margin (NIM) dinilai mulai terkelola melalui strategi pertumbuhan kredit yang lebih selektif, penguatan dana murah (CASA), perbaikan fee based income, serta peningkatan efisiensi biaya.
Baca Juga: Siapkan Dana Buyback Saham Rp 1,5 Triliun, BBNI Minta Restu Pemegang Saham “Secara fundamental BBNI masih solid. Tekanan margin memang ada, tetapi tidak menunjukkan indikasi pelemahan struktural dan justru mencerminkan fase penyesuaian yang bisa berlangsung dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Miftahul kepada Kontan, Selasa (3/2/2026). Untuk 2026, BBNI menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8%–10%, dengan NIM dijaga pada rentang 3,5%–3,8%. Dengan target tersebut, Miftahul menilai fokus bank bakal bergeser pada penguatan kualitas aset, pengendalian cost of credit, serta optimalisasi segmen korporasi dan konsumer. Di luar itu, Miftahul melihat ada sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham BBNI. Antara lain adalah arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, dinamika likuiditas dan biaya dana, serta perkembangan kualitas kredit pasca ekspansi agresif pada 2025.
Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Menghijau, BBNI Melaju Paling Kencang Sementara itu, potensi pemulihan sentimen investor asing terhadap saham bank BUMN dengan fundamental kuat juga dinilai dapat menjadi pendorong kinerja saham. Namun demikian, Miftahul mengingatkan bahwa faktor eksternal seperti volatilitas nilai tukar rupiah dan risiko global masih dapat mempengaruhi pergerakan saham perbankan hingga akhir tahun. Miftahul sendiri merekomendasikan buy on breakout untuk saham BBNI dengan target harga akhir tahun di kisaran Rp 4.700–Rp 4.800 per saham.
Baca Juga: BNI (BBNI) Gelar RUPS Tahun Buku 2025 Secara Daring pada 9 Maret 2026, Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News