Analis: Usai Ledakan Bom Marriot II, Indonesia Akan Pulih Dengan Cepat



SINGAPURA. Ledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton memang mengguncang pasar keuangan di Indonesia di akhir pekan ini. Namun, insiden ini tidak akan mengubah outlook perekonomian yang meningkat dan stabilitas politik yang telah digambarkan oleh investor kepada emerging economy. Bagaimanapun juga, sentimen investor bisa terbangun dari laporan yang banyak bertebaran di sepanjang hari ini. Sebanyak sembilan orang dinyatakan meninggal dan 41 orang lain luka-luka. Sebagian besar korban tersebut adalah warga negara asing. Investor sepertinya ingin untuk fokus kembali pada alasan fundamental untuk kembali membenamkan investasinya di negeri ini: negara dengan perekonomian yang kaya akan sumber daya alam yang tumbuh begitu pesat kendati perekonomian global tengah anjlok; dan pemerintahan yang stabil juga mempedulikan korupsi yang menggerogoti perekonomian negeri ini. Sejumlah analis menyatakan bahwa serangan teror ini tidak terlihat biasa di Indonesia; negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Tahun 2003 dan 2004 lalu, Indonesia juga mendapati serangan sejenis, sementara di Bali, bom meledak di tahun 2002 dan 2005. "Secara fundamental, kondisi makroekonomi dan politik akan tetap positif, dan bom seperti ini kemungkinan tidak akan mengurangi kondisi tersebut; atau mestinya dilihat sebagai indikasi atas suramnya keamanan Indonesia secara umum," kata Agost Bernard, Primary Analyst S&P untuk Indonesia, seperti yang dikutip dari Dow Jones.Bernard mengatakan, insiden ini kemungkinan hanya akan berimbas secara sementara saja. Selebihnya, sentimen investor akan kembali normal jika tidak ada ledakan lagi dan pelaku pengeboman ini bisa dilacak.Sementara itu, James McCormack, Head of Asian Sovereign Ratings dari Fitch Ratings, mengatakan bahwa kabar ledakan bom ini tetap tidak akan mengubah pandangannya mengenai stabilitas politik maupun fundamental kredit. "Memang, kami akan melihat dan mencermati apa yang terjadi. Namun sejauh ini kami memang ikut khawatir mengenai insiden ini," tegasnya kepada Dow Jones. Pemberitaan mengenai bom di Kuningan ini memang ikut menggoyang bursa. Bursa langsung amblas ke zona merah di awal sesi perdagangan hari ini. Rupiah juga ikut lemah terhadap dolar AS. Craig Chan, Foreign Exchange Strategist Numura, mengatakan bahwa pasar Indonesia akan bisa pulih dengan cepat; seperti yang telah terjadi pada tahun-tahun silam saat bom mengguncang negeri ini. Perekonomian Indonesia telah pulih dari krisis ekonomi dengan cukup baik. Awal bulan ini, IMF memprediksikan pertumbuhan perekonomian negeri ini akan menyentuh 4,5% tahun depan dari 3,5% tahun ini. S&P memberikan peringkat Indonesia BB-, sementara itu Moody's Investors Service memberikan ranking Ba3 dan Fitch Ratings memberikan peringkat BB.