KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah melemah ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (20/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap pelebaran defisit fiskal serta independensi Bank Indonesia (BI) setelah Presiden Prabowo Subianto mencalonkan keponakannya sebagai anggota Dewan Gubernur BI. Melansir
Reuters, rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level Rp 16.985 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang masa. Pelemahan ini terjadi sehari setelah Presiden Prabowo mengajukan nama keponakannya, yang saat ini menjabat sebagai wakil menteri keuangan, untuk bergabung dalam jajaran pimpinan bank sentral.
Baca Juga: Kim Jong Un Pecat Wakil Perdana Menteri Korut di Depan Umum Di kawasan Asia, pergerakan pasar saham negara berkembang cenderung bervariasi. Kekhawatiran akan kembali memanasnya perang dagang global turut menekan selera risiko investor. Indeks saham Asia emerging market versi MSCI terkoreksi dari level tertinggi sepanjang masa, sementara indeks saham emerging market global justru naik tipis. Pasar saham Indonesia (IHSG) masih mencatatkan penguatan terbatas dan kembali mencetak rekor tertinggi untuk sesi keempat berturut-turut. Sebaliknya, bursa saham Filipina dan Malaysia masing-masing terkoreksi hingga 1%. Di Asia Timur, indeks KOSPI Korea Selatan bergerak mendatar di sekitar level tertinggi sepanjang masa, sementara indeks saham utama Taiwan menguat tipis dan diperdagangkan sedikit di bawah rekor tertingginya. Tekanan terhadap aset keuangan Indonesia juga tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak ke level 6,331%, tertinggi sejak awal Oktober.
Baca Juga: Pasukan Denmark Tambahan Tiba: Greenland Siaga Hadapi Ancaman Trump Investor terus mencermati kondisi fiskal Indonesia sejak pencopotan mendadak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada September lalu. Kebijakan belanja populis Presiden Prabowo untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pencalonan anggota keluarga ke lingkaran bank sentral, serta kesepakatan pembagian beban baru antara pemerintah dan BI dinilai memperkuat kekhawatiran pasar terhadap otonomi bank sentral. “Pasar menilai, benar atau tidak, bahwa pencalonan ini berpotensi memengaruhi independensi Bank Indonesia,” ujar Michael Wan, analis mata uang senior MUFG. Ia menambahkan, tekanan terhadap defisit fiskal yang berpotensi menembus batas 3% dari produk domestik bruto (PDB) turut memperburuk sentimen terhadap rupiah. “Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat rupiah terus berkinerja lebih buruk dibanding mata uang regional lainnya,” katanya. Pelemahan rupiah ini diperkirakan akan mendorong Bank Indonesia untuk kembali menahan suku bunga acuannya di level 4,75% dalam rapat kebijakan pada Rabu (21/1), sesuai hasil jajak pendapat Reuters.
Baca Juga: Panas Politik, Ekspor Magnet Tanah Jarang (Rare Earth) China ke Jepang Tersendat BI juga diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menahan pelemahan nilai tukar lebih lanjut.
Di negara lain, ringgit Malaysia bergerak mendatar di kisaran 4,05 per dolar AS menjelang rapat kebijakan Bank Negara Malaysia pada Kamis, yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75%. Sementara itu, won Korea Selatan kembali melemah tipis ke level 1.477,8 per dolar AS, terendah dalam sekitar satu pekan terakhir.