Ancaman Dagang, China Batasi Ekspor ke Jepang, Saham Langsung Anjlok



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Ketegangan China dan Jepang memasuki babak baru. China resmi membatasi ekspor ke 40 perusahaan dan entitas Jepang dengan alasan keamanan nasional, memperlebar konflik yang sebelumnya dipicu isu militer dan Taiwan.

Kementerian Perdagangan China pada Selasa (24/2) mengumumkan pembatasan ekspor terhadap 20 entitas Jepang, termasuk lima anak usaha Mitsubishi Heavy Industries dan badan antariksa Jepang. Mereka dituding membantu peningkatan kapabilitas militer Tokyo.

Mulai pekan ini, eksportir China dilarang memasok barang dual-use produk yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer kepada perusahaan yang masuk daftar. Perusahaan asing juga tak boleh menyalurkan barang dual-use asal China ke entitas tersebut.


Tak berhenti di situ, dalam laporan AFP (24/2), China menempatkan 20 entitas Jepang lain, termasuk produsen otomotif Subaru, dalam daftar pengawasan yang mewajibkan proses verifikasi ketat atas ekspor barang berpotensi militer.

Dalam pernyataannya, otoritas China menyebut langkah ini untuk mengekang remiliterisasi dan ambisi nuklir Jepang. Beijing menegaskan kebijakan tersebut sah dan tidak akan mengganggu hubungan dagang normal kedua negara.

Baca Juga: Korea Selatan Protes Acara Jepang Terkait Pulau Sengketa Dokdo

Namun pasar merespons negatif. Saham Kawasaki Heavy Industries turun hampir 5%, Mitsubishi Heavy Industries melemah sekitar 4%, dan IHI anjlok mendekati 7% di Bursa Tokyo. Sejumlah perusahaan galangan kapal dan dirgantara, seperti Japan Marine United, ikut terdampak.

Langkah ini mempertegas eskalasi ketegangan sejak November lalu, ketika Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan, pihaknya dapat melakukan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan. Sejak itu, hubungan bilateral memanas.

Dampaknya sudah terasa di sektor riil. Arus wisatawan China ke Jepang merosot tajam setelah Beijing memperingatkan warganya untuk berhati-hati bepergian ke Negeri Sakura. China juga sempat kembali menangguhkan impor makanan laut Jepang, setelah sebelumnya baru dicabut pada 2023 pasca kontroversi pembuangan air limbah Fukushima.

Awal tahun ini, China bahkan telah lebih dulu melarang ekspor luas barang dual-use ke Jepang. Selain itu, laporan media internasional menyebut China mulai membatasi ekspor rare earth berat dan magnet berbasis logam tanah jarang ke perusahaan Jepang, material krusial bagi industri otomotif, elektronik, dan pertahanan.

Di sisi lain, Jepang memang tengah memperkuat sektor militernya. Pemerintahan Takaichi pada Desember menyetujui anggaran pertahanan rekor 9 triliun yen atau sekitar US$ 58 miliar untuk tahun fiskal mendatang. Tokyo juga melonggarkan aturan ekspor peralatan pertahanan serta mendorong kemampuan counterstrike.

Bagi pelaku usaha, kebijakan terbaru Beijing berisiko memperumit rantai pasok industri berat dan teknologi Jepang yang selama ini masih bergantung pada komponen dan bahan baku dari China.

Meski China menyatakan hanya menargetkan sejumlah kecil entitas, langkah ini mengirim sinyal jelas, rivalitas geopolitik Asia Timur kini makin merembet ke jalur perdagangan dan investasi. Jika saling pembatasan terus berlanjut, dampaknya bukan hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi stabilitas rantai pasok global.

Baca Juga: Tinggalkan Kebijakan Penghematan, PM Jepang Yakinkan Pasar Dengan Janji Fiskal

Selanjutnya: Jadwal Imsak & Buka Puasa Jakarta Hari Ini 25 Februari: Bantu Maksimalkan Ibadah

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Pangandaran Hari Ini (25/2), Pastikan Sahur Tepat Waktu

TAG: