Ancaman Defisit Biodiesel: Kebijakan di Atas B40 Picu Krisis Energi Dini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rantai pasok biodiesel nasional diproyeksikan mulai menghadapi tekanan pasokan dalam jangka panjang jika kebijakan campuran biodiesel terus dinaikkan di atas B40. 

Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) Filda C. Yusgiantoro, mengatakan pengembangan biodiesel tetap menjadi instrumen strategis untuk menekan impor minyak mentah dan BBM.

“Keberhasilan kebijakan biodiesel sangat bergantung pada dukungan regulasi dan koordinasi lintas sektor guna mengatasi tantangan rantai pasok, mulai dari produktivitas lahan, alokasi CPO, hingga kesiapan infrastruktur distribusi,” ujarnya di forum PYC Talks Volume 1 bertema “Diseminasi Studi: Analisis Rantai Pasok Biodiesel”, Rabu (25/2/2026).


Baca Juga: Target 1 Juta Bph 2030, Praktisi Hukum Migas Usul Perpres Perizinan Proyek Energi

Sejalan dengan itu, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Edi Wibowo menilai program mandatori biodiesel merupakan langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional berbasis bahan bakar nabati sawit. 

Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan rantai pasok dari hulu hingga hilir, mengingat CPO juga dibutuhkan untuk pangan dan ekspor serta mayoritas perkebunan dikelola swasta.

Dalam sesi panel, PYC bersama IREEM memaparkan hasil studi berbasis model system dynamics untuk memproyeksikan kemampuan rantai pasok biodiesel dalam memenuhi target bauran energi. Research Coordinator PYC Massita Ayu Cindy menyebut rekomendasi utama studi adalah mempertahankan B40 sebagai baseline mandatori.

Hasil menunjukkan, bahkan pada skenario B40, rasio supply-demand biodiesel diproyeksikan turun di bawah 100% mulai sekitar 2042. 

Sementara itu, skenario eskalasi campuran B50–B90 justru mempercepat tekanan sistem, dengan rasio supply-demand turun di bawah 100% sejak 2030. Artinya, kebijakan di atas B40 secara praktis mempercepat risiko defisit pasokan biodiesel.

Sejumlah pemangku kepentingan turut memberi tanggapan. Dari sisi hulu, perwakilan Kementerian Pertanian menekankan penguatan rantai pasok harus dimulai dari perbaikan tata kelola perkebunan sawit. 

Sementara itu, Ketua Umum Apkasindo Gulat M. E. Manurung menyoroti pentingnya fokus para pemangku jabatan pada aspek esensial proses produksi biodiesel.

Baca Juga: Perizinan Berlapis, Proyek Energi Strategis Terancam Molor

Dari sisi hilir, Lemigas menyampaikan telah melakukan berbagai uji teknis kompatibilitas mesin terhadap biodiesel, bahkan menjadi rujukan sejumlah negara. 

Sementara Gaikindo mengapresiasi inovasi riset biodiesel nasional yang dinilai mampu meningkatkan kualitas produksi dan menjaga kredibilitas Indonesia di mata global.

Diskusi ini diharapkan memperkaya perumusan kebijakan biodiesel agar tetap mendukung ketahanan energi nasional secara berkelanjutan, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara pasokan bahan baku, kapasitas produksi, dan target bauran energi.

Selanjutnya: Jadwal Buka Puasa Kudus & Sekitarnya: Raih Berkah Ramadan Tepat Waktu Hari Ini (24/2)

Menarik Dibaca: Ramadhan With OYO, Ada Diskon Menginap hingga 75% dan Gratis Tambahan Menginap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News