Ancaman Donald Trump: Akan Ada Konsekuensi Ekonomi bagi Negara yang Dukung Iran



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengingatkan akan adanya konsekuensi ekonomi bagi negara mana pun yang memberikan bantuan vital apa pun kepada Iran.

Ribuan orang tewas dalam perang AS-Israel versus Iran, yang dengan cepat melibatkan negara-negara Teluk dan mengguncang pasar global ketika Iran menunjukkan kemampuannya untuk menghambat pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur yang mengangkut sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global sebelum bulan Februari.

AS dan Iran telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, yakni pada bulan April dan Juni 2026. Tujuannya untuk memulihkan kelancaran pelayaran melalui Hormuz sebagai langkah menuju pengakhiran konflik.


Hanya saja, kedua kesepakatan itu dengan cepat gagal, bahkan ketika Israel sebagian besar telah menarik diri dari pertempuran.

Baca Juga: Impor Batubara China Meningkat, Impor dari Indonesia Naik 20% di Bulan Juli

Dalam sebuah pesan di media sosial pada hari Rabu, Trump menjanjikan perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun rinciannya sangat minim.

Iran telah bertahan menghadapi sanksi ekonomi berat yang terus-menerus selama hampir 50 tahun, sejak Revolusi Islam tahun 1979.

"Negara mana pun yang membiarkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bentuk bantuan vital apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar," tulis Trump seperti dilansir Reuters, Kamis (20/8/2026).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut komentar Trump sebagai upaya untuk mengalihkan opini publik Amerika dari masalah keuangan domestik, termasuk rekor utang dan kenaikan suku bunga.

Araqchi mengatakan, desakan Washington terhadap kebijakan yang ia sebut sebagai kebijakan gagal itu hanya akan membawa kegagalan lebih lanjut dan menjauhkan rakyat Iran. "Terorisme ekonomi Amerika mengancam ekonomi global dan kedaulatan nasional negara-negara di seluruh dunia," ujarnya di platform X.

Ancaman dan pengumuman Trump di media sosial tidak selalu dilaksanakan persis seperti yang tertulis, dan ia tidak merinci langkah spesifik apa yang akan diambil AS terhadap negara semacam itu.

Pada hari Selasa, Uni Emirat Arab (UEA)—yang menjadi lokasi pangkalan militer utama AS—menyatakan akan menangguhkan seluruh kegiatan perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Langkah tersebut diambil setelah kementerian pertahanan UEA melaporkan deteksi dua rudal yang diluncurkan dari Iran dan jatuh ke laut; sebuah laporan yang dibantah oleh Iran sebagai klaim tak berdasar.

Data tahun 2025 dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan bahwa Tiongkok membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran, namun AS menghadapi risiko pembalasan jika terlibat lebih jauh dalam perang ekonomi dengan Tiongkok, yang merupakan eksportir utama berbagai komoditas penting—seperti mineral tanah jarang—ke AS.

Iran tetap terbuka untuk berdialog dengan AS namun tidak menyamakan negosiasi dengan penyerahan diri, ujar Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, pada hari Selasa sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Fars. Ia menambahkan, tekanan militer dan sanksi tidak akan mematahkan tekad Iran.

Baca Juga: Vietnam Tegaskan Komitmen Atasi Kekhawatiran AS soal Transshipment Barang

Pada hari Selasa, Trump menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran. Sehari sebelumnya, Jared Kushner—menantu sekaligus utusan khususnya—menyampaikan nada optimis dengan mengatakan bahwa pembicaraan masih berjalan dan bahkan "mungkin lebih intens" daripada sebelumnya.

Trump ingin menyita cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran dan mengupayakan kesepakatan baru yang lebih ketat untuk membatasi program energi dan penelitian nuklir negara tersebut, guna menggantikan kesepakatan lama yang ditinggalkan AS secara sepihak pada tahun 2018.

Sebagai negara penandatangan perjanjian non-proliferasi nuklir, Iran selama beberapa dekade menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai.