KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di bawah tekanan besar setelah pengumuman
Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Potensi perombakan status ini memicu keprihatinan investor global terhadap likuiditas serta tata kelola pasar modal domestik. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG ditutup anjlok hingga 11,57% ke level 5.185.
Baca Juga: Mampukah Sanksi Rp 2,1 Triliun dari OJK Mengembalikan Kepercayaan Investor Asing? Bahkan, indeks sempat mengalami
trading halt sebesar 8% pada awal sesi perdagangan sebelum akhirnya ditutup dengan total nilai transaksi mencapai Rp 32,01 triliun. Tekanan utama pada pergerakan indeks bersumber dari aksi lepas portofolio oleh investor asing secara masif. Arus modal asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 3,34 triliun di seluruh pasar, dengan total sell mencapai Rp 17,4 triliun berbanding buy sebesar Rp 14,0 triliun. Aksi jual bersih (
net foreign sell) investor asing paling banyak menerpa saham-saham perbankan big caps, dipimpin oleh PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) sebesar Rp 2,336 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) sebesar Rp 1,152 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) sebesar Rp 867 miliar. Di samping itu, ada saham PT Aneka Tambang Tbk (
ANTM) dan PT Telkom Indonesia Tbk (
TLKM) juga mencatatkan
net sell asing masing-masing sebesar Rp 138 miliar dan Rp 93 miliar. Sebaliknya, beberapa saham masih mampu membukukan
net buy asing (
Foreign Value buy) di pasar reguler, di tengah tekanan pasar. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (
GOTO) menjadi yang paling banyak dikoleksi investor asing dengan net buy Rp 286 miliar, disusul PT Indofood Sukses Makmur Tbk (
INDF) sebesar Rp 76 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (
EMAS) Rp 58 miliar, PT Barito Pacific Tbk (
BRPT) Rp 58 miliar, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (
AADI) sebesar Rp 56 miliar.
Baca Juga: Sinar Mas Agro (SMAR) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 958 Miliar, Senin (19/10) Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pergerakan IHSG hingga akhir tahun 2026 berpotensi terus menghadapi tantangan berat. "Pasca pengumuman MSCI yang mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 cenderung bearish dengan volatilitas tinggi," ujar Nafan kepada Kontan kepada Kontan, Jumat (16/10/2026). Nafan menjelaskan bahwa potensi capital outflow dan kenaikan premi risiko investasi menjadi pemicu utama yang menahan laju indeks. "Tekanan terhadap IHSG berpotensi berlanjut seiring meningkatnya risiko arus keluar modal asing, kenaikan premi risiko investasi, serta melemahnya kepercayaan investor global terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia," tambahnya. Kendati demikian, pasar masih memiliki ruang pemulihan mengingat keputusan final dari MSCI dijadwalkan paling lambat pada 30 Juni 2027. Rentang waktu tersebut memberikan kesempatan bagi regulator untuk merespons dan membenahi struktur pasar modal nasional.
Arah pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada langkah konkret Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta pemerintah dalam memperketat kejelasan data kepemilikan saham, keterbukaan
free float, perlindungan investor, hingga peningkatan likuiditas transaksi. Dari sisi teknikal, Nafan memproyeksikan, IHSG bergerak dengan level support di kisaran 4.989 dan resistance berada pada posisi 7.082 hingga akhir 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News