Ancaman Koreksi 25%: Investor Wajib Tahu Risiko Jual Emas dan Perak Sekarang



KONTAN.CO.ID - Mengutip The Street, pada Kamis (15/1/2026), harga perak menembus US$ 90 per ons troi untuk pertama kalinya dan sempat menyentuh puncak US$ 92,15 per ons troi pada perdagangan pagi di New York. Harga penutupan mencetak rekor di US$ 90,869 per ons troi, atau melonjak 5,8%.

Sementara itu, harga emas juga mencetak rekor baru. Emas sempat naik hingga US$ 4.650,10 per ons troi sebelum ditutup di level US$ 4.263,30 per ons troi, naik 0,8%. Meski ada pembicaraan bahwa harga masih bisa naik lebih tinggi, pengalaman menunjukkan bahwa pasar mulai semakin rentan terhadap lonjakan harga yang berlebihan dan berisiko berbalik tajam.

Reli pada kedua logam ini sebagian dipicu oleh ketidakpastian global, terutama gejolak di Iran dan potensi perubahan rezim secara tiba-tiba yang menjadi faktor utama.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berupaya memanfaatkan situasi Iran. Pada Senin, ia menyampaikan pesan kepada para pengunjuk rasa Iran bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” dan secara terbuka mendorong aksi protes terhadap rezim Islam yang telah berkuasa sejak 1978.

Pernyataan tersebut menjadi suntikan “kafein” besar bagi pasar.

“Emas adalah mata uang cadangan utama dunia. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, ketika Trump bisa bangun pagi dan tiba-tiba mengatakan ingin menyerbu Greenland, Anda seharusnya membeli emas,” ujar analis Veritas Investment Research, Martin Pradier, kepada Bloomberg News.

Baca Juga: Ekspor Singapura Tumbuh 6,1% pada Desember 2025, Pengiriman ke China Naik

Selain itu, ada dua faktor lain yang ikut mendorong lonjakan harga perak dan emas.

Pertama, konflik yang terus memanas antara pemerintahan Trump dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, termasuk penyelidikan pidana terhadap Powell. Langkah ini memicu reaksi keras dari kalangan perbankan global dan anggota Kongres AS.

Kedua, dampak dari penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Maduro ditahan pada 3 Januari dan dipindahkan ke New York untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba.

Harga Perak Melonjak 26% dalam Dua Pekan

Harga perak telah melonjak lebih dari 26% sejak 31 Desember dan naik hingga 212% dalam 52 minggu terakhir, menurut The Wall Street Journal. Sementara itu, emas mendekati kenaikan 7% sepanjang tahun ini dan telah melesat 71% dalam setahun terakhir.

Indeks kekuatan relatif (Relative Strength Index/RSI) perak berada di level 72 pada Rabu, yang menandakan kondisi mulai jenuh beli. Jika RSI menembus angka 80, itu merupakan sinyal kuat bahwa pasar sudah terlalu panas.

Meski demikian, masih banyak pihak yang sangat optimistis terhadap perak. Kepala investasi Lotus Asset Management Ltd., Hao Hong, mengatakan kepada Bloomberg bahwa harga perak berpotensi mencapai US$ 150 per ons.

Baca Juga: Rusia: Klaim NATO Soal Ancaman Greenland Adalah Mitos Pemicu Panik

"Pola pembeli perak dan emas juga berubah dalam beberapa bulan terakhir," ujar Max Layton, Global Head of Commodities Research Citi, kepada CNBC.

Selama beberapa tahun, kenaikan harga didorong oleh pembelian bank sentral dan investor individu dari China. Namun belakangan, dana lindung nilai (hedge fund), ETF, serta investor dan spekulan ritel justru menjadi penggerak utama pasar, jelas Layton.

Berdasarkan kondisi tersebut, Layton memperkirakan harga perak akan mencapai US$ 100 per ons dalam tiga bulan ke depan, sementara emas berpotensi menyentuh US$ 5.000 dalam periode yang sama.

Namun, proyeksi Layton untuk jangka 12 bulan justru menunjukkan arah sebaliknya. Ia mematok target harga perak di US$ 70 per ons dan emas di US$ 4.000 dalam enam hingga 12 bulan ke depan, yang berarti potensi koreksi lebih dari 25%.

Tonton: Kuota Produksi Nikel Nasional 2026 Dibatasi: 260 Juta Ton Jadi Batas Atas

Selanjutnya: Bintang Cahaya Investment Resmi Jadi Pengendali Agro Yasa Lestari (AYLS)

Menarik Dibaca: Promo Es Teler 77 Paket Bakso Super Hemat & Minuman Baru di Bakmi GM yang Asam Segar