KONTAN.CO.ID - BP mengumumkan akan melakukan
lockout terhadap sekitar 800 anggota United Steelworkers (USW) di kilang Whiting, Indiana, kapasitas 440.000 barel per hari, mulai pukul 12:00 pagi tanggal 19 Maret, menyusul buntu negosiasi perjanjian kerja baru. Perusahaan minyak asal Inggris ini mengakhiri perpanjangan kontrak 24 jam dan mengeluarkan surat
lockout setelah serikat menolak proposal yang dianggap BP kritis untuk keberlanjutan jangka panjang fasilitas.
Baca Juga: Nvidia Siapkan Chip Groq untuk Pasar China "Pada pertemuan hari ini, Serikat menawarkan revisi proposal, tetapi sekali lagi menolak secara tegas proposal perusahaan yang krusial bagi keberlanjutan jangka panjang kilang," kata BP dalam pernyataan resminya Selasa (17/3/2026). BP menambahkan, karyawan pemeliharaan diminta tidak masuk kerja setelah 17 Maret, sementara pekerja USW lainnya tetap masuk hingga 18 Maret. Perusahaan menegaskan akan tetap melakukan bargaining secara itikad baik, tetapi penghentian
lockout membutuhkan persetujuan serikat terhadap proposal BP per 17 Maret. Keputusan ini mengikuti bulan-bulan negosiasi, di mana serikat menolak dua kali proposal kunci tanpa menanggapi kekhawatiran utama BP. Sejak 1 Februari, kilang beroperasi di tengah "ketidakpastian tenaga kerja," termasuk kemungkinan mogok dengan pemberitahuan 24 jam, sehingga penguasaan operasional kembali dianggap vital untuk memastikan pengelolaan kilang yang aman dan teratur. BP menyebut, "Langkah ini penting untuk memastikan keberlanjutan operasional kilang, yang memproduksi bahan bakar transportasi seperti gasoline, diesel, dan jet fuel."
Baca Juga: Unilever Pertimbangkan Lepas Bisnis Makanan, Apa Alasannya? Sementara itu, serikat sebelumnya mengkritik bahwa BP mengusulkan perubahan tempat kerja, termasuk pemotongan lebih dari 200 pekerjaan serikat di bidang operasi, pemeliharaan, dan keselamatan lingkungan, serta mengurangi beberapa perlindungan di tempat kerja. Kilang Whiting memiliki peran strategis karena gangguan operasional bisa memperketat pasar produk olahan global, meningkatkan kekhawatiran pasokan di Midwest, bahkan secara internasional, terutama di tengah lonjakan harga bahan bakar akibat konflik Timur Tengah. USW belum memberikan komentar resmi terkait lockout ini.