Ancaman militer China atas Taiwan selama 2020 yang tertinggi sejak krisis rudal 1996



KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Jet-jet tempur China membuat rekor 380 "serangan" ke zona pertahanan Taiwan tahun lalu. Sebuah lembaga think tank yang terkait dengan militer memperingatkan, ketegangan mencapai titik tertinggi sejak krisis rudal 1996.

Taiwan hidup di bawah ancaman invasi terus-menerus oleh China, yang memandang pulau itu sebagai wilayahnya dan telah bersumpah untuk merebutnya suatu hari nanti, dengan kekerasan jika perlu.

Permusuhan Beijing telah meningkat secara dramatis sejak Presiden Taiwan Tsai Ing-wen memenangkan pemilihan pada 2016. Soalnya, Tsai menolak gagasan Taiwan adalah bagian dari "satu China".


Tetapi, perang psikologis mencapai puncak baru tahun lalu ketika China mengirim jet tempur, pembom, dan pesawat pengintai ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga: Dapat kemampuan tambahan, rudal hipersonik DF-17 China si pembunuh kapal induk

"380 serangan ke ADIZ Barat Daya kami pada 2020 jauh lebih sering dibanding sebelumnya," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan Shih Shun-wen, Selasa (5/1), seperti dikutip Channel News Asia.

Pesawat tempur China menargetkan Taiwan "untuk menguji respons militer kami, untuk memberikan tekanan pada pertahanan udara kami, dan untuk menekan ruang udara untuk kegiatan kami," ujar dia.

Ancaman militer China yang tertinggi

Angka-angka itu muncul ketika Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional yang berafiliasi dengan militer memperingatkan dalam sebuah laporan tahunan tentang Tentara Pembebasan Rakyat bahwa "ancaman militer China adalah yang tertinggi sejak krisis rudal 1996 di Selat Taiwan".

Tahun itu, China menembakkan rudal ke Selat Taiwan dalam upaya untuk menghalangi para pemilih dalam pemilihan presiden demokratis pertama di pulau itu, mendorong Amerika Serikat untuk mengirim kapal perang ke daerah tersebut.

Baca Juga: Berlaku 1 Januari 2021, militer China semakin kuat di bawah UU pertahanan yang baru

Editor: S.S. Kurniawan