KONTAN.CO.ID -
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp 17.000 per dollar AS hanya berpotensi terjadi dalam jangka pendek dan tidak akan bertahan lama. Menurut Fakhrul, jika rupiah benar-benar menyentuh level tersebut, kondisi itu justru mencerminkan pelemahan yang berlebihan dan tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia. “Saya punya pandangan apakah rupiah bisa mencapai 17.000 mungkin hanya bisa tercapai dalam jangka pendek tapi tidak akan selamanya,” ujar Fakhrul ditemui di Jakarta pada Rabu (21/1/2026).
Ia menilai level Rp 17.000 per dollar AS merupakan kondisi overshoot dan lebih dipengaruhi oleh sentimen global jangka pendek, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi domestik. “Saya melihat rupiah 17.000 kondisinya
overshoot. That’s time to sell dollar, kira-kira seperti itu,” kata dia. Fakhrul memproyeksikan nilai tukar rupiah sepanjang 2026 akan bergerak lebih stabil dengan rata-rata berada di kisaran Rp 16.500 per dollar AS. Ia meyakini tekanan terhadap rupiah di awal tahun bersifat sementara dan berpotensi mereda seiring perbaikan neraca eksternal. Untuk memperkuat nilai tukar rupiah, Fakhrul menyarankan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, untuk memanfaatkan momentum tingginya minat investor global terhadap surat utang Indonesia.
Baca Juga: Wamenkum di Universitas Jayabaya Sebut Penegakan Hukum Harus Siap Hadapi Era Digital Ia menilai penerbitan global bond, baik dalam denominasi dollar AS maupun renminbi, bisa menjadi langkah strategis karena permintaannya masih sangat tinggi. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya berpotensi menarik arus modal asing, tetapi juga berdampak langsung terhadap penguatan cadangan devisa Indonesia. Dari sisi fundamental, Fakhrul melihat pendorong utama stabilitas rupiah ke depan berasal dari kinerja ekspor, khususnya komoditas berbasis logam. Ia mencatat harga sejumlah komoditas utama masih menunjukkan tren positif. “Saya lihat dengan harga metal dan lain-lain yang masih terus meningkat ya. Harga timah masih naik, harga nikel recovery, trade balance Indonesia bisa positif,” jelasnya. Ia menambahkan, penguatan ekspor komoditas tersebut sangat berkaitan dengan pengelolaan neraca pembayaran. Meski tekanan terhadap rupiah masih terasa di awal tahun, Fakhrul optimistis kondisi akan membaik pada pertengahan tahun. Dengan kombinasi surplus neraca perdagangan dan pengelolaan arus modal yang tepat, Fakhrul menilai komoditas, terutama sektor logam, akan menjadi bantalan utama bagi stabilitas rupiah.
Tonton: CEO Global Siap Sambut Trump di Davos “Ini pendorongnya itu dari ekspor komoditas terutama metal. Itu akan menjadi tameng untuk rupiah kita,” tutup Fakhrul. Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul
"Ekonom Pede Rupiah Tak Tembus 17.000, Rata-rata Rp 16.500" Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News