Ancaman Siber Meningkat, Kecerdasan Buatan Mengubah Hacker Jadi Lebih Canggih



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Perkembangan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) kini semakin mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri. Dari peningkatan efisiensi operasional hingga pengambilan keputusan berbasis data, AI telah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern.

Namun di balik percepatan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Seiring meningkatnya adopsi AI, organisasi kini harus mengelola lebih banyak sistem, lebih banyak data, serta konektivitas yang semakin luas antar lingkungan teknologi informasi.

Kondisi ini menyebabkan infrastruktur teknologi menjadi semakin kompleks dan pada saat yang sama, memperbesar potensi risiko keamanan.


“Banyak perusahaan fokus memanfaatkan AI untuk efisiensi, tapi lupa bahwa teknologi yang sama juga digunakan oleh hacker. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan diserang, tapi kapan,” ujar Clara Hsu, Country Manager Indonesia Synology Inc, pekan lalu.

AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi eksperimental. Investasi global yang terus meningkat menunjukkan bahwa AI telah menjadi fondasi dalam mendorong akselerasi digital perusahaan.

Namun, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan siber. Dengan AI, proses serangan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat diotomatisasi, mulai dari pemindaian sistem hingga penyusunan strategi serangan.

Baca Juga: PLN Gandeng Tambang, Dorong Elektrifikasi Menuju Green Mining

“AI menyebabkan serangan menjadi lebih cepat, lebih personal, dan lebih sulit dideteksi. Ini yang membuat ancaman siber hari ini jauh berbeda dari sebelumnya,” jelas Clara.

Pola serangan seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware masih menjadi metode utama. Namun pendekatannya kini jauh lebih canggih.

Serangan phishing, misalnya, kini dapat disusun secara sangat personal. Pesan yang dikirim tidak lagi terlihat generik. Melainkan disesuaikan dengan konteks pekerjaan, jabatan, bahkan gaya komunikasi target. Walhasil, serangan menjadi jauh lebih meyakinkan dan sulit dikenali.

Setelah kredensial berhasil diperoleh, pelaku dapat masuk ke dalam sistem dan bergerak secara tersembunyi. Dalam banyak kasus, serangan tidak langsung dilakukan. Pelaku justru menunggu momen yang paling kritis seperti akhir kuartal atau periode bisnis sibuk untuk meluncurkan ransomware dan memaksimalkan dampak terhadap operasional.

Ancaman siber kini tidak lagi terbatas pada perusahaan besar. Organisasi dari berbagai skala, termasuk sektor finansial, layanan pemerintah, manufaktur, hingga kesehatan, menjadi target yang sama-sama rentan.

Semakin luasnya adopsi teknologi digital membuat batasan infrastruktur TI menjadi semakin kompleks dan terdistribusi. Akibatnya, permukaan serangan juga semakin besar dan sulit dikendalikan.

“Kompleksitas TI yang meningkat karena AI selalu datang bersama peningkatan risiko. Semakin banyak sistem dan data, semakin besar pula permukaan serangan yang harus diamankan,” tambah Clara.

Menghadapi ancaman yang semakin berkembang, organisasi tidak bisa hanya mengandalkan pencegahan. Ketika serangan berhasil menembus sistem, kemampuan untuk memulihkan data menjadi faktor yang sangat menentukan.

Dalam konteks ini, backup berperan sebagai garis pertahanan terakhir. Namun, pendekatan terhadap backup juga perlu berubah. “Masih banyak yang menganggap backup itu sudah cukup. Padahal, jika backup tidak terlindungi, itu justru bisa menjadi titik lemah yang paling berbahaya,” tegas Clara.

Maka, Synology menghadirkan ActiveProtect sebagai solusi perlindungan data untuk mendukung ketahanan siber di era modern. Solusi ini memungkinkan organisasi mengelola backup dari berbagai lingkungan, mulai dari cloud, server, hingga mesin virtual dalam satu platform terpusat.

“Di era sekarang, keamanan tidak cukup hanya mencegah. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis tetap bisa berjalan dan pulih dengan cepat setelah serangan terjadi,” ujar Clara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News