Ancaman Trump: AS Akan Kenakan Tarif ke Negara yang Tolak Klaim Greenland



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan pada Jumat (16/1/025), bahwa ia bisa menghukum negara-negara lain dengan tarif jika mereka tidak mendukung rencana Amerika Serikat untuk menguasai Greenland. Pernyataan itu muncul di saat delegasi bipartisan Kongres AS justru datang ke ibu kota Denmark untuk meredakan ketegangan.

AP melaporkan, selama berbulan-bulan, Trump bersikeras bahwa AS harus mengendalikan Greenland, wilayah semi-otonom milik sekutu NATO, Denmark. Awal pekan ini, ia bahkan menyebut bahwa apa pun selain Greenland berada di tangan AS adalah hal yang tidak bisa diterima.

Saat menghadiri acara yang tidak berkaitan (tentang layanan kesehatan di pedesaan) di Gedung Putih pada Jumat, Trump kembali mengingat bagaimana sebelumnya ia mengancam sekutu-sekutu Eropa dengan tarif atas produk farmasi.


“Saya mungkin akan melakukan hal yang sama untuk Greenland,” kata Trump. 

Dia menambahkan, “Saya bisa mengenakan tarif pada negara-negara yang tidak mau sejalan soal Greenland, karena kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Jadi, saya mungkin akan melakukan itu.”

Sebelumnya, Trump belum pernah secara terbuka menyebut tarif sebagai alat untuk memaksakan agenda Greenland.

Baca Juga: Blokir Visa 75 Negara, Kebijakan Imigrasi AS Kejutkan Dunia Jelang Piala Dunia FIFA

Upaya diplomatik belum membuahkan hasil

Awal pekan ini, menteri luar negeri Denmark dan Greenland bertemu di Washington dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Pertemuan tersebut tidak menyelesaikan perbedaan pandangan yang mendalam, meski menghasilkan kesepakatan untuk membentuk kelompok kerja bersama. Namun, Denmark dan Gedung Putih kemudian menyampaikan penjelasan publik yang sangat berbeda soal tujuan kelompok tersebut.

Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa hanya Denmark dan Greenland yang berhak menentukan masa depan wilayah itu. Denmark juga menyatakan pekan ini bahwa mereka meningkatkan kehadiran militernya di Greenland, bekerja sama dengan para sekutu.

Dewan Inuit kecam pernyataan Gedung Putih

Isu ini berdampak langsung pada kehidupan warga Greenland. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan pada Selasa lalu, “Jika saat ini kami harus memilih antara Amerika Serikat dan Denmark, maka kami memilih Denmark. Kami memilih NATO. Kami memilih Kerajaan Denmark. Kami memilih Uni Eropa.”

Ketua Inuit Circumpolar Council yang berbasis di Nuuk, organisasi yang mewakili sekitar 180.000 masyarakat Inuit dari Alaska, Kanada, Greenland, dan wilayah Chukotka di Rusia, menyebut pernyataan berulang dari Gedung Putih soal keharusan AS memiliki Greenland sebagai cerminan cara pemerintah AS memandang rakyat Greenland dan masyarakat adat.

Tonton: Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Bisa Cetak Rekor Lagi

“Ini soal bagaimana salah satu kekuatan terbesar di dunia memandang bangsa-bangsa lain yang jauh lebih kecil dan kurang berkuasa,” kata Sara Olsvig kepada Associated Press. “Dan itu sangat mengkhawatirkan.”

Ia menegaskan, masyarakat Inuit di Greenland tidak ingin kembali dijajah.

Selanjutnya: Cicipi 7 Kuliner Legendaris di Bandung: Batagor Riri Hingga Nasi Ibu Imas

Menarik Dibaca: Telur hingga Sayuran: 7 Superfood Sederhana Ini Ampuh Jaga Kesehatan Tubuh