Ancaman Trump bikin CEO dunia cemas



NEW YORK. Para pimpinan bisnis dunia saat ini mencemaskan tentang perdagangan global.

Berdasarkan hasil survei terbaru yang dilakukan PwC, enam dari sepuluh CEO global mencemaskan kebijakan proteksionisme dan melonjaknya hambatan dalam berbisnis. Angka tersebut naik dari posisi 40% dibanding tahun 2012.

Sekadar informasi, PwC mewawancarai sekitar 1.379 CEO dari 79 negara untuk survei yang berlangsung antara September hingga Desember. Mereka mewakili perusahaan dari segala ukuran di sektor yang berbeda.


Kecemasan tertinggi tampak di AS dan Meksiko, di mana 64% pemimpin bisnis utama dunia mencemaskan hal yang sama.

Kenaikan kecemasan itu sangat berhubungan erat dengan Donald Trump. Presiden terpilih AS ini sudah mengancam untuk membubarkan kesepakatan perdagangan dan menerapkan pajak tinggi kepada mayoritas negara yang menjadi partner dagangnya.

Menurut PwC, kecemasan mengenai proteksionisme di antara CEO AS melonjak sebesar 10% setelah pemilu. Yakni, ada 61% CEO yang cemas saat disurvei sebelum 8 November, dan 71% setelah kemenangan Trump.

"Saya rasa kita melihat munculnya nasionalisme, nasionalisme ekonomi, dari sisi fundamental dibanding yang kita lihat dalam 20 tahun terakhir," jelas John Patrick Hourican, CEO of Bank of Cyprus.

Hasil survei menunjukkan adanya kenaikan tipis atas kepercayaan bisnis secara keseluruhan, kendati pertumbuhan ekonomi global mulai membaik.

Sekitar 38% CEO beranggapan mereka sangat "percaya diri" mengenai prospek pertumbuhan perusahaan mereka dalam 12 bulan mendatang. Sebagai perbandingan, di survei tahun sebelumnya, hanya ada 35% yang merasa "percaya diri".

"Ada sejumlah sinyal optimisme global saat ini, termasuk di Inggris dan AS, meskipun ada prediksi penurunan ekonomi akibat Trump serta Brexit. Hal ini bisa dilihat dari kenaikan kepercayaan CEO mengenai pertumbuhan perusahaan dari 2016," papar Bob Moritz, PwC's global chairman.

Selain itu, lebih dari separuh CEO yang disurvei berencana meningkatkan perekrutan pegawai pada tahun ini. Namun, prosesnya membuat mereka gugup.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie