KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ancora Indonesia Resources Tbk (
OKAS) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 2,45 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Capaian ini berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika OKAS mencatatkan rugi sebesar US$ 5,01 juta. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian tidak diaudit per 30 September 2026, pendapatan OKAS tercatat sebesar US$ 121,49 juta. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 121,58 juta. Meski pendapatan stabil, laba bruto OKAS turun 10,6% secara tahunan menjadi US$ 30,92 juta dari US$ 34,57 juta. Namun, perusahaan berhasil menekan beban operasi sebesar 43,8% menjadi US$ 16,14 juta dari US$ 28,70 juta.
Baca Juga: Summarecon Agung (SMRA) Masih Andalkan Penjualan Properti, Simak Rekomendasi Sahamnya Penurunan beban operasi tersebut mendorong laba operasi meningkat 151,8% menjadi US$ 14,78 juta, dibandingkan US$ 5,87 juta pada sembilan bulan pertama 2025. Laba sebelum pajak penghasilan juga naik 65,5% menjadi US$ 10,18 juta dari US$ 6,15 juta. Sementara itu, laba periode berjalan mencapai US$ 6,76 juta, meningkat dibandingkan US$ 1,50 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi operasional, pendapatan OKAS masih didominasi bisnis bahan kimia dan bahan peledak untuk pertambangan yang menyumbang 96% dari total pendapatan konsolidasian. Segmen manufaktur dan perdagangan bahan kimia serta bahan peledak pertambangan mencatatkan pendapatan US$ 75,37 juta, dengan kontribusi 62%. Adapun segmen solusi eksplosif membukukan pendapatan US$ 41,03 juta atau setara 34% dari total pendapatan. Sementara itu, bisnis lainnya menyumbang US$ 5,09 juta atau 4%. Perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan kuartal III 2026 sebesar 14% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada periode yang sama, laba bruto meningkat 8% secara kuartalan, sedangkan EBITDA tumbuh 27% menjadi US$ 19,32 juta. Meski meningkat secara kuartalan, EBITDA sembilan bulan pertama 2026 masih turun 20% secara tahunan dibandingkan US$ 24,16 juta pada periode yang sama tahun lalu. Marjin EBITDA juga turun menjadi 16% dari 20%. Direktur Utama Ancora Indonesia Resources Ratno Paskalis Hendrawan mengatakan, perbaikan kinerja pada kuartal III melanjutkan tren pertumbuhan yang dimulai sejak kuartal II 2026.
Baca Juga: Surya Semesta (SSIA) Siapkan MESOP, Maksimal 82,34 Juta Saham Bisa Dieksekusi “Perolehan sejumlah kontrak peledakan jangka panjang baru serta rencana komersialisasi pabrik booster yang akan melayani pasar domestik maupun internasional, mendorong integrasi vertikal lebih lanjut dan memberikan visibilitas pertumbuhan pendapatan yang jelas bagi Ancora dalam jangka menengah,” ujar Ale, sapaan akrab Ratno Paskalis Hendrawan dalam keterangan resmi, Senin (26/10/2026). Dari sisi neraca, total aset OKAS per 30 September 2026 mencapai US$ 158,82 juta, dengan total liabilitas US$ 96,40 juta dan ekuitas US$ 62,42 juta. Saldo kas tercatat sebesar US$ 7,71 juta, sedangkan rasio net gearing berada di level 0,47 kali, membaik dari 0,54 kali pada akhir 2025. Ke depan, OKAS mengandalkan perolehan kontrak baru jasa peledakan dan pengembangan fasilitas produksi untuk menopang pertumbuhan bisnis. Perusahaan telah memperoleh dua kontrak jasa peledakan tambang terbuka dengan nilai total sekitar US$ 60 juta yang berlangsung hingga 2029 dan 2030. Kontrak pertama bernilai sekitar US$ 11 juta di Kalimantan Timur, sedangkan kontrak kedua senilai US$ 49 juta dijalankan di salah satu tambang besar di Indonesia bersama kontraktor jasa pertambangan.
Baca Juga: Mitratel (MTEL) Bidik Pertumbuhan dari Shared Infrastructure, Simak Prospek Sahamnya Selain itu, OKAS memperoleh kontrak jasa peledakan tambang bawah tanah atau
underground dengan perusahaan tambang non-batubara senilai sekitar US$ 7 juta per tahun. Perusahaan juga melanjutkan pembangunan pabrik
booster di Handil, Kalimantan Timur. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II 2027 untuk memenuhi kebutuhan internal sekaligus melayani penjualan kepada pihak ketiga, termasuk pasar ekspor. Manajemen memandang prospek perusahaan hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 tetap positif, ditopang aktivitas pertambangan nasional serta peluang perluasan pasar amonium nitrat ke sektor di luar pertambangan, termasuk pertanian. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News