Andalan Artha Bakal IPO di Harga Rp 158-Rp 189 per Saham, Ini Catatan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Andalan Artha Primanusa Tbk bersiap melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering atau IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Calon emiten berkode saham ANDA ini menawarkan harga saham pada rentang Rp 158 hingga Rp 189 per saham dalam masa penawaran awal.

Melansir prospektus penawaran umumnya, Andalan Artha Primanusa berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,67 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 25,10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan IPO.

Melalui aksi korporasi tersebut, perusahaan yang bergerak di bidang aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya ini berpotensi menghimpun dana segar maksimal Rp 316,76 miliar.


Selain saham baru, Andalan Artha Primanusa juga akan menerbitkan maksimal 239,42 juta Waran Seri I. Setiap pemegang tujuh saham baru perseroan berhak memperoleh satu waran yang dapat digunakan untuk membeli satu saham baru perseroan.

Baca Juga: OJK: Ada 8 Perusahaan Antre IPO, Nilainya Capai Rp 9,15 Triliun

Adapun Waran Seri I tersebut memiliki harga pelaksanaan sebesar Rp 695 per saham. Periode pelaksanaan waran dijadwalkan berlangsung mulai 1 Juni 2027 hingga 1 Desember 2028. Apabila seluruh waran dilaksanakan oleh pemegangnya, ANDA berpeluang memperoleh tambahan dana maksimal Rp 166,40 miliar.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama mengatakan prospek ANDA cukup menarik karena bergerak di bidang jasa kontraktor dan penunjang pertambangan batu bara serta nikel. Peluang pertumbuhan didukung kebutuhan jasa pertambangan dan aktivitas produksi komoditas. 

Dari sisi kinerja, laba bersih ANDA semester I-2026 mencapai Rp11,77 miliar, tumbuh 261% YoY. Namun, investor perlu mencermati pendapatan yang justru turun 8,7%, konsentrasi pelanggan, serta keberlanjutan pertumbuhan laba.

Untuk penawaran awal, investor sebaiknya selektif dan tidak hanya melihat pertumbuhan laba. Pada rentang bookbuilding Rp158–189 per saham, investor perlu memperhatikan valuasi, prospek pertumbuhan, arus kas, dan kualitas kontrak perusahaan. 

"Penggunaan dana IPO yang sebagian besar untuk modal kerja dan pembayaran utang juga perlu dicermati. Saya menyarankan investor tidak terlalu agresif sebelum harga final dan valuasinya lebih jelas," kata Elandry kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).

Disisi lain, Elandry berpendapat kondisi pasar saat ini masih cukup menantang akibat volatilitas IHSG, ketidakpastian global, dan fluktuasi capital flow. Namun, IPO tetap berpeluang menarik apabila perusahaan menawarkan fundamental yang kuat, valuasi kompetitif, dan prospek bisnis yang jelas. 

"Khusus untuk ANDA, tantangan utamanya adalah membuktikan bahwa pertumbuhan laba dapat berkelanjutan dan didukung ekspansi operasional yang sehat," tambah Elandry.

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpandangan prospek bisnis ANDA cukup menarik seiring dengan kebutuhan jasa penunjang pertambangan di Indonesia, khususnya untuk komoditas batu bara dan nikel. 

Perusahaan memiliki peluang untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas produksi dan ekspansi industri pertambangan, termasuk pengembangan hilirisasi nikel yang membutuhkan dukungan jasa kontraktor pertambangan, penyewaan alat berat, serta layanan operasional tambang.

Baca Juga: Investor Pasar Modal Tembus 33,4 Juta, BEI Bidik Lebih Banyak Perusahaan IPO

Salah satu daya tarik ANDA adalah diversifikasi kegiatan usaha dari batu bara ke nikel. Perusahaan telah memiliki tujuh lokasi operasional pertambangan yang tersebar di empat provinsi, sehingga memberikan basis operasional untuk mendukung pengembangan bisnis. 

"Ekspansi ke sektor nikel juga berpotensi menjadi katalis pertumbuhan jangka menengah hingga panjang, seiring dengan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dan industri hilirisasi mineral di Indonesia," tambah Nafan.

Untuk mengikuti penawaran awal, investor sebaiknya menerapkan pendekatan selective buying dengan mempertimbangkan valuasi, prospek pertumbuhan, serta fundamental keuangan perusahaan. 

Selain itu, ada beberapa sentimen yang perlu diperhatikan. Pertama, investor juga perlu mencermati keberlanjutan kontrak pertambangan, diversifikasi pelanggan, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan pendapatan. 

Kedua, perlu memperhatikan struktur permodalan karena per Juni 2026, liabilitas perusahaan mencapai Rp620,42 miliar, sedangkan ekuitas sebesar Rp236,28 miliar. Artinya, tingkat leverage masih relatif tinggi sehingga kemampuan pengelolaan utang dan arus kas operasional menjadi faktor penting.

Selain itu, investor perlu mencermati penggunaan dana IPO. Sekitar 35% dana hasil IPO akan dialokasikan untuk pembayaran utang, sedangkan 65% sisanya digunakan sebagai modal kerja operasional. 

Pengurangan beban utang berpotensi memperbaiki struktur keuangan, tetapi investor tetap perlu memastikan bahwa tambahan modal kerja dapat meningkatkan produktivitas dan menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan. 

Baca Juga: 23 Perusahaan Tunda IPO pada 2026, OJK Ungkap Penyebabnya

"Investor sebaiknya tidak hanya berorientasi pada potensi kenaikan harga saham setelah pencatatan, tetapi juga memperhitungkan valuasi dan risiko bisnis perusahaan," tambah Nafan.

Investor Lebih Selektif

Nafan juga bilang kondisi pasar modal saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama akibat volatilitas IHSG, ketidakpastian sentimen global, dinamika arus modal asing, serta proses pemulihan kepercayaan investor terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia. 

Kondisi tersebut berpotensi membuat investor lebih selektif dalam menyerap saham-saham IPO, terutama emiten yang belum memiliki rekam jejak panjang di pasar sekunder.

Di sisi lain, momentum IPO tetap dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang memiliki fundamental memadai, prospek bisnis yang jelas, serta penetapan valuasi yang kompetitif. 

Bagi ANDA, sektor jasa penunjang pertambangan masih memiliki peluang pertumbuhan, tetapi perusahaan perlu membuktikan kemampuan menjaga profitabilitas, memperluas kontrak kerja, dan mengelola risiko fluktuasi harga komoditas yang dapat memengaruhi aktivitas produksi para pemilik tambang.

Oleh karena itu, keberhasilan IPO ANDA tidak hanya ditentukan oleh prospek sektor pertambangan, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan investor terhadap fundamental dan harga penawaran sahamnya. 

"Investor sebaiknya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, melakukan analisis terhadap prospektus, serta mempertimbangkan valuasi secara objektif sebelum berpartisipasi dalam penawaran umum perdana," tutup Nafan.

Baca Juga: Andalan Artha Siap Melantai di Bursa lewat IPO, Bidik Dana Rp 316,7 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News