Andrew Forrest: Menghadapi gugatan hukum (3)



Keluarga Forrest di Australia Barat dikenal memiliki pengaruh besar. Namun hal tersebut tidak menjamin perjalanan bisnis Andrew Forrest mulus tanpa hambatan. Usaha pertambangannya harus menghadapi kasus hukum dengan Pemerintah Australia sampai organisasi prolingkungan. Toh, gugatan hukum ini tak menghentikan Forrest mendulang keuntungan dan mencatatkan namanya sebagai orang terkaya ketiga di Australia dengan harta US$ 5,3 miliar.

Tidak lama waktu yang dihabiskan Andrew Forrest untuk membesarkan Fortescue Metals Groups (FMG). Perusahaan induk logam ini segera menguasai ladang-ladang yang memproduksi bijih besi di Australia bagian barat.


Setelah menguasai empat ladang pertambangan di tahun 2003, empat tahun berselang Forrest mengambil kendali pertambangan Niagara empat tahun. Konsesi ini memiliki berpetak-petak tambang di Laverton, Australia barat.

Namun, kepemilikan Forrest terhadap aktivitas tambang mengundang kasus hukum. Tahun 2006, regulator yaitu Australian Securities and Investment Commission (ASIC), menggugat Forrest ke pengadilan.

Seperti tertulis dalam Brisbane Times, ASIC mengajukan gugatan pada Forrest terkait kerja sama FMG dengan tiga perusahaan asal China atas proyek bijih besi di kawasan Pilbara, Australia barat.

ASIC menuduh Forrest ingkar dalam pembangunan dan pembiayaan untuk proyek bijih besi di Pilbara, serta menyebarkan informasi tidak benar tentang kerja sama tersebut.

Berdasarkan keterangan ASIC, FMG tidak membangun infrastruktur jalur kereta, pelabuhan dan pertambangan, seperti yang diungkapkan sebelumnya.

ASIC juga mempertanyakan dana sebesar US$ 1,85 miliar yang diberikan tiga perusahaan China tersebut untuk mengembangkan infrastruktur di Pilbara.

Bukan hanya dianggap gagal dan menyesatkan investor, ASIC menuduh FMG melakukan tindakan ilegal dengan menjual sebagian besar bijih besi ke China.

Lewat perdagangan dengan China, FMG berhasil meraup laba bersih sebesar US$ 341,1 juta. Pendapatannya naik dua kali lipat menjadi US$ 2,53 miliar.

Tuduhan ASIC membayang-bayangi Forrest dengan denda US$ 4,4 juta jika terbukti bersalah. FMG juga harus membayar denda US$ 6 juta. Selain itu, Forrest juga dilarang menjabat sebagai direktur FMG dan Minerva meski memiliki saham senilai US$ 4,3 miliar.

Forrest berkeras menganggap tuduhan tersebut tidak benar dan mengklaim telah melakukan kegiatan sesuai kontrak. Di tengah kasus hukum yang membelitnya, Forrest justru balik menyerang pemerintah. Ia menganggap pemerintah tidak berpihak pada pengusaha tambang lokal.

Dia juga mengkritik kampanye pemerintah soal pajak pertambangan yang senilai total US$ 38 miliar. Pria kelahiran Perth 50 tahun silam ini mengajukan keberatan pajaknya dengan nilai US$ 2 miliar.

Forrest lantas mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Federal Australia. Tahun 2009, keberuntungan di pihak Forrest ketika Hakim John Gimour menyatakan FMG tidak melanggar kontrak. Artinya, Forrest tidak lalai dan perusahaannya tidak melakukan tindakan ilegal.

Namun, pada Februari 2011, Pengadilan Tinggi Federal Australia menyatakan Forrest bersalah, sehingga dia harus membayar penalti dan berhenti dari jabatannya. Sedangkan FMG diputus bersalah karena melanggar perjanjian kerangka kerja dan gagal memperbaiki laporan.

Pengadilan juga menilai Forrest tidak melakukan usaha apa pun untuk memperbaiki posisi FMG dan malah membuat pernyataan menyesatkan di media massa.

Tidak hanya berurusan dengan hukum, Forrest juga harus menghadapi organisasi lingkungan hidup yang memprotes aktivitas pertambangannya.

Ayah tiga anak ini juga dianggap tidak pro pada penduduk lokal. Untuk menepis tuduhan miring tersebut, Andrew membangun kamp pelatihan kejuruan Fortescue Metals Group untuk melatih masyarakat setempat sebagai bekal bekerja di industri pertambangan. ?

(Bersambung)