Andrew Garfield Bintangi Film Artificial, Angkat Kisah di Balik Berdirinya OpenAI



KONTAN.CO.ID - Aktor Andrew Garfield mengaku terdorong rasa ingin tahu sekaligus kekhawatiran saat memerankan CEO OpenAI Sam Altman dalam film Artificial.

Film garapan sutradara Luca Guadagnino tersebut menyoroti perjalanan OpenAI, perusahaan kecerdasan buatan (AI) di balik ChatGPT, serta konflik kepemimpinan yang mengguncang perusahaan itu pada 2023.

Film Artificial tayang perdana di London Film Festival pada Minggu (11/10/2026). Kisahnya merentang selama dua dekade, mulai dari awal pendirian dan perkembangan OpenAI hingga pemecatan sementara Altman pada November 2023 dan pengangkatannya kembali beberapa hari kemudian.


Baca Juga: Bursa Australia Menguat, Investor Menanti Laporan Produksi Emiten Tambang

"Saya tertarik pada film ini karena rasa ingin tahu dan ketakutan, serta keinginan untuk memahami sedalam mungkin orang-orang yang membawa kita memasuki fase dunia berikutnya," ujar Garfield, seperti dikutip Reuters.

Menurut Garfield, para pemimpin perusahaan teknologi besar memiliki keberanian, imajinasi, dan daya tahan untuk menghadapi kritik serta sorotan publik yang intens.

Namun, ia menilai penting bagi masyarakat untuk terus mengawasi mereka karena keputusan para pemimpin tersebut turut menentukan arah perkembangan dunia.

"Kita perlu mengetahui siapa yang memegang kekuasaan dan siapa yang sedang membentuk dunia baru kita," katanya.

Garfield sebelumnya juga membintangi film The Social Network (2010), yang mengisahkan pendirian Facebook.

Untuk perannya dalam Artificial, ia mengaku tidak menghubungi ataupun bertemu langsung dengan Altman selama persiapan.

Baca Juga: RBI Perketat Hedging, Biaya Lindung Nilai Rupee India Bisa Naik

Garfield mengatakan dirinya tidak mengenal Altman secara pribadi dan memiliki empati terhadap seseorang yang usianya hampir sama dengannya, tetapi kisah hidupnya telah diangkat menjadi film.

Ia menegaskan bahwa film tersebut bukanlah sosok Altman secara utuh, melainkan interpretasi atas cerita dan peran Altman di dalamnya.

OpenAI tidak menanggapi permintaan komentar Reuters mengenai film tersebut. Dalam wawancara dengan Vanity Fair, Altman sebelumnya mengatakan dirinya tidak berharap film itu menggambarkan kisah yang sepenuhnya akurat.

Konflik etika dan keamanan AI menjadi sorotan

Naskah Artificial ditulis Simon Rich, penulis Saturday Night Live yang telah meraih penghargaan Emmy. Film ini juga dibintangi Yura Borisov, aktor Rusia yang pernah masuk nominasi Oscar, sebagai Ilya Sutskever, salah satu pendiri OpenAI sekaligus mantan kepala ilmuwan perusahaan tersebut.

Sutskever meninggalkan OpenAI setelah terlibat dalam keputusan yang berujung pada pemecatan sementara Altman. Konflik antara keduanya, termasuk perbedaan pandangan mengenai etika dan keamanan AI, menjadi salah satu bagian utama cerita.

Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil di US$ 4.200 Senin (12/10), Menanti Data Inflasi AS Pekan Ini

Sutskever sebelumnya menimba ilmu di bawah Geoffrey Hinton, ilmuwan yang dikenal sebagai salah satu pelopor kecerdasan buatan dan dijuluki Godfather of AI. Dalam film tersebut, Hinton diperankan oleh Mark Rylance.

Sejumlah tokoh teknologi lainnya juga muncul dalam film ini. Ike Barinholtz memerankan Elon Musk, CEO Tesla, sementara Monica Barbaro berperan sebagai Mira Murati, mantan kepala teknologi OpenAI.

Film tersebut diproduksi pada 2025 dan hadir ketika kekhawatiran mengenai keamanan AI semakin meningkat.

Sejumlah insiden terbaru yang melibatkan OpenAI dan Anthropic memicu kembali perdebatan tentang risiko sistem AI yang berpotensi beroperasi di luar kendali manusia.

Barbaro mengatakan, relevansi isu yang diangkat membuat proses produksi film terasa unik. Ia mengaku pernah menyaksikan dua orang yang diperankan dalam film itu saling berdebat di platform media sosial X ketika para pemain sedang berada di lokasi syuting.

Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Hati-hati Senin (12/10), Waspadai Laporan Keuangan dan Inflasi AS

Menurut Barbaro, kondisi tersebut membuat proses produksi terasa menarik sekaligus menantang. Ia menilai upaya menggambarkan peristiwa secara jujur menjadi semakin rumit karena perkembangan isu AI dan dinamika para tokohnya dapat berubah dalam hitungan bulan.