KONTAN.CO.ID - Tingkat kematian sementara (
provisional mortality rate) di Amerika Serikat (AS) turun 4,6% sepanjang 2025. Namun di sisi lain, kematian akibat influenza dan pneumonia melonjak 17% seiring musim flu yang lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 3 Hari Beruntun: Potensi Kelebihan Pasokan Mengintai Melansir
Reuters, berdasarkan laporan sementara Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang dirilis Kamis (2/7/2026), angka kematian yang telah disesuaikan berdasarkan usia (
age-adjusted death rate) turun menjadi 689,2 kematian per 100.000 penduduk dari 722,1 pada 2024. Penurunan tersebut melanjutkan tren perbaikan sejak tingkat kematian mencapai puncaknya pada masa pandemi COVID-19 pada 2021. Penulis utama studi tersebut, Farida Ahmad, mengatakan penurunan angka kematian sebagian besar didorong oleh terus berkurangnya kasus kematian akibat overdosis obat, yang dikategorikan sebagai kematian karena cedera atau kecelakaan tidak disengaja (
unintentional injuries). Meski demikian, jumlah kematian akibat influenza dan pneumonia justru meningkat 17% menjadi 56.511 kasus pada 2025.
Baca Juga: Jepang Ubah Strategi Intervensi Yen, Spekulan Kini Jadi Sasaran Mendadak Kondisi ini membuat kedua penyakit tersebut naik menjadi penyebab kematian kedelapan di Amerika Serikat, dari peringkat ke-11 pada tahun sebelumnya. "Musim flu, terutama pada Januari dan Februari 2025, sangat berat sehingga menyebabkan banyak kematian akibat influenza," kata Ahmad. Ia menambahkan, musim flu yang berat juga diduga berkontribusi terhadap kenaikan sekitar 1,6% angka kematian akibat penyakit jantung. Pada musim flu 2024–2025, jumlah pasien rawat inap maupun kunjungan rawat jalan akibat influenza musiman bahkan mencapai level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Secara keseluruhan, penyakit jantung, kanker, dan cedera tidak disengaja tetap menjadi tiga penyebab utama kematian di AS.
Baca Juga: Portugal Siap Tempur Lawan Kroasia, Ini Prediksi Starting XI Roberto Martinez Berdasarkan kelompok etnis, tingkat kematian tertinggi masih dialami warga kulit hitam, yakni 869 kematian per 100.000 penduduk, meskipun angkanya sedikit membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat kematian pada penduduk American Indian dan Alaska Native meningkat menjadi 803,8 per 100.000 penduduk. Angka kematian pada kelompok Native Hawaiian dan Pacific Islander juga naik menjadi 746 per 100.000 penduduk.
Adapun tingkat kematian warga kulit putih, yang mencakup sekitar 74,5% dari seluruh kematian yang tercatat, turun menjadi 724,2 per 100.000 penduduk. Sementara angka kematian pada warga keturunan Asia relatif tidak berubah.
Baca Juga: Austria Siapkan Strategi Khusus untuk Matikan Lamine Yamal di Piala Dunia CDC mengingatkan bahwa data tersebut masih bersifat sementara karena didasarkan pada sertifikat kematian yang masih dalam proses verifikasi. Sejumlah penyebab kematian, terutama akibat cedera tidak disengaja, umumnya membutuhkan waktu pelaporan lebih lama sehingga angka akhirnya masih berpotensi direvisi.