KONTAN.CO.ID - JAKARTA, 15 Juni 2026 — KG Media mengumumkan tema besar Lestari Summit 2026, yakni “The Regenerative Pulse: Agile Ideas, Resilient Systems, Disruptive Change”. Bersamaan dengan pengumuman tersebut, tiket Lestari Summit 2026 resmi dibuka melalui Tribun Booking dengan fase
early bird pada 10–30 Juni 2026. Lestari Summit 2026 merupakan forum keberlanjutan yang mempertemukan para pemimpin, praktisi, dan penggerak perubahan untuk bertukar gagasan, saling menginspirasi, serta membuka peluang kolaborasi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Pemilihan tema “The Regenerative Pulse” menegaskan bahwa agenda keberlanjutan tidak lagi cukup berhenti pada diskusi. Keberlanjutan perlu dibentuk, diukur, diperluas skalanya, dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui tema tersebut, Lestari Summit 2026 ingin menghubungkan berbagai isu strategis, mulai dari kebijakan, akuntabilitas, ekonomi berbasis alam, inovasi teknologi, transisi energi, hingga aksi publik. Vice President (VP) Sustainability KG Media Wisnu Nugroho mengatakan, Lestari Summit 2026 ingin menghadirkan percakapan keberlanjutan yang semakin dekat dengan persoalan nyata masyarakat. Menurut Wisnu, isu
sustainability tidak hanya hidup dalam dokumen kebijakan atau forum tingkat tinggi. Isu ini juga hadir dalam cara masyarakat bergerak, menggunakan energi, mengelola mobilitas, membangun kota, hingga menjalani kehidupan sehari-hari. “Keberlanjutan bukan hanya isu kebijakan. Ini juga menyangkut bagaimana masyarakat bergerak, menggunakan energi, mengelola mobilitas, dan membangun kota yang lebih layak huni,” ujar Wisnu.
Tiga fokus pembahasan utama
Untuk menerjemahkan tema besar tersebut, Lestari Summit 2026 akan menghadirkan pembahasan dalam tiga fokus utama. Fokus pertama adalah National Direction & Sustainability Accountability. Segmen ini membahas arah kebijakan dan akuntabilitas keberlanjutan Indonesia, termasuk posisi regional, inovasi, data, kepatuhan, dan kesiapan pelaporan keberlanjutan. Fokus kedua adalah Nature-Based Economy & Local Impact. Segmen ini mengangkat potensi alam dan komunitas lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Segmen ini juga akan menyoroti praktik nyata,
local changemakers, blue-green economy, biodiversity economy, serta kolaborasi untuk memperbesar dampak. Fokus ketiga adalah Business Transformation, Technology & Public Action. Segmen ini membahas hubungan antara
sustainability, transformasi bisnis, teknologi, transisi energi, kota sirkular, dan perubahan perilaku masyarakat. Dengan tiga fokus tersebut, Lestari Summit 2026 ingin memperlihatkan bahwa keberlanjutan dapat hadir dalam berbagai level. Dari arah kebijakan nasional, potensi ekonomi berbasis alam, hingga aksi sehari-hari yang dekat dengan publik. Wisnu menilai, pembahasan lintas tema tersebut penting karena tantangan keberlanjutan tidak bisa dijawab oleh satu sektor saja. Pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas, dan masyarakat perlu berada dalam ruang yang sama untuk saling memahami tantangan sekaligus membuka peluang kolaborasi. “Lestari Summit 2026 ingin menjadi ruang temu bagi berbagai perspektif. Ada isu kebijakan, ada praktik bisnis, ada teknologi, dan ada aksi komunitas. Semuanya perlu saling terhubung agar sustainability tidak berhenti sebagai wacana,” kata Wisnu.
Tiket early bird resmi dibuka
KG Media juga telah membuka penjualan tiket Lestari Summit 2026 melalui tauran
https://booking.tribunnews.com/festival/lestari-summit-2026. Tiket
early bird tersedia dengan harga Rp 175.000 dan dapat dibeli mulai 10–30 Juni 2026. Publik yang ingin mengikuti Lestari Summit 2026 dapat memanfaatkan periode
early bird sebelum penjualan tiket reguler dibuka pada 1–20 Juli 2026 dengan harga Rp 250.000. Menurut Wisnu, sistem tiket berbayar dihadirkan untuk membangun komitmen peserta yang hadir. Dengan sistem ini, Lestari Summit 2026 diharapkan dapat menjadi ruang belajar, bertukar gagasan, berjejaring, dan berkolaborasi bagi peserta yang memiliki perhatian terhadap isu keberlanjutan. “Melalui sistem tiket, kami ingin memastikan Lestari Summit 2026 menjadi ruang yang dihadiri oleh peserta dengan ketertarikan dan komitmen terhadap isu keberlanjutan,” ujar Wisnu. Ia menambahkan, komitmen peserta menjadi penting karena Lestari Summit tidak hanya dirancang sebagai forum untuk hadir dan mendengar. Forum ini juga diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan mendorong jejaring kolaborasi yang lebih luas. “Kami ingin peserta mendapatkan nilai dari forum ini. Bukan hanya datang ke sebuah acara, tetapi juga membawa pulang perspektif, jejaring, dan dorongan untuk ikut mengambil bagian dalam agenda keberlanjutan,” kata Wisnu.
Format acara lebih tersegmentasi
Pada penyelenggaraan tahun ini, Lestari Summit 2026 juga dirancang dengan format yang lebih tersegmentasi. Akan ada pembahasan yang berfokus pada kebijakan, serta pembahasan yang lebih dekat dengan aksi komunitas dan masyarakat. Wisnu menjelaskan, pembagian tersebut disiapkan agar percakapan yang hadir dalam Lestari Summit 2026 dapat saling melengkapi. Satu ruang dapat membahas arah besar kebijakan. Ruang lainnya dapat memperlihatkan hal-hal yang bisa dilakukan oleh komunitas, pelaku usaha, maupun masyarakat umum. “Dua ruang itu akan saling melengkapi. Ada pembahasan yang lebih dekat dengan kebijakan, dan ada pembahasan yang lebih dekat dengan hal-hal yang bisa dilakukan komunitas maupun masyarakat,” ujar Wisnu. Dengan format tersebut, Lestari Summit 2026 diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Forum ini tidak hanya relevan bagi pembuat kebijakan dan pelaku bisnis, tetapi juga bagi komunitas, mahasiswa, profesional muda, dan publik yang ingin memahami isu keberlanjutan secara lebih konkret.
Masyarakat yang ingin mengikuti Lestari Summit 2026 dapat membeli tiket melalui Tribun Booking di
https://booking.tribunnews.com/festival/lestari-summit-2026. Penjualan tiket dibagi dalam dua fase. Fase
early bird berlangsung pada 10–30 Juni 2026 dengan harga Rp 175.000. Setelah itu, tiket reguler tersedia pada 1–20 Juli 2026 dengan harga Rp 250.000. Melalui Lestari Summit 2026, KG Media ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang mendorong agenda keberlanjutan bergerak dari wacana menuju praktik nyata. Forum ini diharapkan dapat mempertemukan gagasan, memperkuat jejaring, serta membuka peluang kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pencapaian SDGs di Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News