Angkatan Bersenjata Iran: Blokade AS di Hormuz sama dengan Pembajakan



KONTAN.CO.ID - TEHERAN. Seorang juru bicara Angkatan Bersenjata Iran mengatakan pada hari Senin bahwa pembatasan AS terhadap kapal di perairan internasional adalah ilegal dan 'sama dengan 'pembajakan'. 

Iran pun akan secara tegas menerapkan "mekanisme permanen" untuk mengendalikan Selat Hormuz menyusul ancaman AS untuk memblokadenya.

Ia menambahkan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Teluk harus dapat diakses oleh semua orang atau tidak sama sekali, dan menegaskan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk atau Teluk Oman yang akan tetap aman jika pelabuhan-pelabuhan Iran terancam. 


Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menegaskan AS akan memblokade Selat Hormuz karena negosiasi damai dengan Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.

Langkah ini berpotensi memperparah kekurangan pasokan minyak dan bahan bakar global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor energi dunia.

Baca Juga: Bank Dunia Peringatkan Krisis Lapangan Kerja, Defisit Bisa Capai 800 Juta Orang

“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di media sosial, Senin (13/4/2026).

Kebijakan ini secara efektif akan memutus jalur utama ekspor minyak Iran.

Negosiasi selama 21 jam antara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan pejabat tinggi Iran, yang dimediasi Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung enam pekan.

Kegagalan tersebut membuat gencatan senjata yang baru disepakati pekan lalu menjadi tidak pasti, sekaligus meningkatkan risiko eskalasi konflik.

Selat Hormuz merupakan jalur energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global melewati wilayah tersebut.

Blokade penuh akan semakin menekan pasar minyak global dengan membatasi sisa pengiriman yang masih berlangsung.

Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi memutus sumber pendapatan utama Iran dari ekspor minyak, yang selama ini tetap berjalan relatif stabil meskipun konflik berlangsung dan justru diuntungkan oleh lonjakan harga minyak.