Anies Walsh, Desainer Interior Kondang



anies-walsh_dokpribadiANIES Walsh termasuk salah satu desainer interior Indonesia yang sukses. Ia juga mampu mengangkat citra desain interior di mata masyarakat. Sejak muda ia memang fokus menggarap bidang ilmu desain interior.Belum genap satu dekade masuk ke bisnis desain interior, namun nama Anies Alkurratu Aini Walsh atau akrab disapa Anies sudah menjadi salah satu pentolan di ranah desain interior tanah air. Tepatnya, pemilik sekaligus Direktur PT ATT Design ini  masuk ke bisnis desain interior pada tahun 2000 silam. Anies, juga punya andil besar dalam memajukan bidang ilmu desain interior di Indonesia. Melalui kecerdasannya, mantan Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jakarta ini rajin menyuarakan pentingnya sentuhan desain di setiap ruangan, baik melalui media, ceramah, seminar, dan perlombaan. Perempuan 36 tahun ini juga sukses membawa perusahaannya menjadi salah satu perusahaan desain interior yang mapan. Walau skala perusahaannya masih menengah, tapi cukup menjadi tumpuan 13 karyawannya. Dalam sebulan, ATT Design setidaknya mengerjakan minimal tiga proyek desain interior ruangan, dengan omzetnya minimal Rp 150 juta per bulan. Anies mengerjakan desain interior untuk beragam ruang. Mulai rumah tinggal, apartemen, kantor, rumah sakit, klinik, masjid sampai anjungan money changer. "Saya tidak suka setengah-setengah melakukan sesuatu hal," ujar perempuan berparas cantik ini. Lantaran bekerja total itu pulalah, menurut Anies, kebanyakan pelanggan kembali menggunakan jasanya. Anies lahir di Palembang tahun 1973. Boleh dibilang, Anies beruntung karena terlahir di tengah keluarga yang secara ekonomi berkecukupan. Ayahnya adalah seorang pejabat Pertamina. Ayah ibunya pun sangat memperhatikan pendidikan dan pengembangan bakat Anies. Salah satu bakat Anies yang menonjol adalah di bidang seni. Padahal, kakak dan adik-adiknya rata-rata lulusan kedokteran atau teknik sipil. "Mungkin bakat ini dari kakek, atau dari paman yang profesinya pelukis di Madura," ujar istri Leslie James Walsh ini. Masa kecil Anies sarat dengan prestasi di bidang seni dan olahraga. Anies kecil memang sangat aktif dan menggemaskan orang tua manapun yang melihatnya. Sejak tahun 1983 sampai tahun 1988, Anies kecil selalu menang lomba lukis di Palembang, tanah kelahirannya. Tak hanya itu,  Anies kecil juga langganan menjadi pemenang lomba roller blade di Palembang sejak tahun 1984 sampai 1988. Pada tahun 1987, Anies memenangkan lomba lukis tingkat nasional dan mendapat hadiah kuas emas dari menteri pendidikan dan kebudayaan karena. Pada tahun yang sama, Anies mengikuti Jambore Pramuka Dunia di Australia. Setahun berikutnya, Anies nekad hijrah ke Bandung lantaran ngebet ingin menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Padahal usianya baru 15 tahun. Anies pun mondok di tempat teman ayahnya selama setahun. "Mungkin karena melihat saya aktif, mandiri dan tidak neko-neko, orang tua membolehkan saya pergi," katanya. Karena sarat penghargaan di bidang seni, "Saya sempat berfikir akan menjadi arsitek ke depan nanti," ujar ibu empat anak ini sembari tersenyum simpul. Namun kenyataannya, Anies malah di Fakultas Seni dan Desain jurusan Desain Interior, ITB angkatan tahun 1991. Di tempat inilah Anies belajar dan mengasah bakatnya. Ia juga banyak bergaul dengan teman-temannya yang aktif di seni teater. "Pergaulan saya serta pendidikan saya telah melatih intuisi dan kreativitas saya," ujar Anies. Mendirikan perusahaan jasa desain interior Selama bertahun-tahun, Anies belajar dan bergelut di bidang seni. Namun, ia merasa kurang mendapatkan ilmu kewirausahaan. Maka itu, ia mendirikan perusahaan yang bergerak di jasa desain interior sendiri tahun 2001. Modal awalnya Rp 4 juta. Sejak kecil, Anies Alkurratu Aini Walsh, yang akrab disapa Anies, merupakan anak gedongan yang suka bergaul dengan siapa saja, termasuk dengan  anak-anak kampung dan anak-anak kurang mampu di sekitarnya. Anies membawa gaya bergaulnya ini sampai kuliah. Selain dengan teman kuliah, Anies akrab dengan supir angkot, tukang becak, tukang lotek, tukang gado-gado dan sebagainya. "Waktu itu, saya menjalani hidup layaknya anak biasa, dengan uang kos Rp 200.000 sebulan," ujarnya. Pergaulannya tersebut membawanya ke suatu prinsip bahwa hidup satu kali harus berarti. Juga, bahwa segala sesuatu harus diraih dengan usaha dan kerja keras. "Dan, selalu ada ujian untuk mencapai hasil yang diinginkan," kata mantan finalis Putri Ayu Indonesia tahun 1992 ini. Maka, selama kuliah di jurusan Desain Interior ITB, Anies juga belajar dengan keras. Di sisi lain, menurut Anies, belajar desain interior itu tak ubahnya seperti bermain sambil belajar. Sebagai anak seni, banyak hal yang sangat menyenangkan baginya. "Kita jadi sensitif dengan area apa pun yang dilihat," ucap Anies. Selama bertahun-tahun, Anies berlatih merekam gambaran suatu ruangan dalam ingatannya dan mengolahnya berdasarkan imajinasinya. Anies juga belajar bahwa desain interior ternyata tidak harus mahal. Sebab, dalam seni, barang sepele pun bisa jadi bernilai. Ia cukup memberikan sedikit sentuhan dan permainan warna. "Saya juga belajar teamwork," ujar anak keempat dari enam bersaudara ini. Tak puas dengan ilmu yang didapat di ITB, Anies memperdalam ilmu seninya di Amerika, tepatnya di University of Texas, Austin, tahun 1997. Selama 2,5 tahun belajar di tempat ini, Anies juga mengikuti sekitar lima kursus seni. Antara lain kursus dekorasi dinding dan furnitur, kursus dekorasi interior, kursus mozaik, kursus kaca hias, kaca patri, dan kaca lukis. "Jadi, saat ini kalau ada yang mau tipu-tipu saya soal kaca ataupun pernik lainnya, tidak akan bisa," ujar mantan bintang iklan Departemen Pariwisata tahun 2006 ini. Anies mengaku telah mengeluarkan banyak uang untuk kursusnya ini. Beruntung, keluarganya mendukungnya. "Ayah saya sangat menghargai pendidikan putra-putrinya," terang Anies. Ketika kembali ke Indonesia tahun 2000, Anies mulai masuk ke dunia kerja. Ia berjodoh dengan PT Atelier 6 Interior. Disini, hampir setahun Anies bekerja sebagai desainer interior. Saat itu, ia mulai sadar bahwa pelajaran seninya kurang memberinya ilmu mengenai enterpreneurship. Padahal, agar bisa eksis di dunia desain interior, ia menguasai juga harus menguasai ilmu itu. Tapi, pada 2001, Anies nekad keluar dari Atelier dan mendirikan perusahaan sendiri di Pancoran, Jakarta bersama kedua adiknya yang lulusan teknik sipil. "Waktu itu modalnya hanya Rp 4 juta," kenang Anies. Tidak berjalan mulus Perjalanan Anies Walsh membesarkan perusahaan miliknya, PT ATT Design, tidak selalu berlangsung mulus. Perusahaannya sempat hampir bangkrut gara-gara tidak mendapat proyek selama dua bulan. Anies pun terpaksa harus merogoh kocek pribadinya. Pada tahun 2001, Anies Alkurratu Aini Walsh resmi mendirikan PT ATT Design bersama kedua adiknya, Agus Mudzakkaril Haris dan Azewar Tamamun Sani. Modal awal Rp 4 juta mereka pakai untuk mengurus legalitas perusahaan. Nama ATT sendiri berasal dari bahasa sansekerta warisan sang ayah. "ATT sendiri singkatan dari kata apta yang berarti pintar, tara berarti istimewa dan tista yang berarti yang senantiasa maju," beber Anies. Berdirinya ATT Design menarik minat teman-teman desainer interior Anies untuk bergabung.  "Padahal, waktu itu saya tak menjanjikan gaji yang besar," ujar ibu dari Michael, Zachary, Tsamara dan Ibar ini. Menurut Anies, pekerjaan sebagai desainer interior merupakan pekerjaan yang sangat menantang kreativitasnya. "Yang paling menantang adalah mendesain interior rumah tinggal dan rumah sakit," ujar Anies. Untuk mendesain sebuah rumah tinggal, Anies harus menyatukan pikiran para penghuni rumah tersebut. "Bisa jadi maunya si bapak, si ibu dan anak-anaknya beda. Kita harus pintar menjembatani," terang mantan Putri Ayu Sumatera Selatan 1992 ini. Sementara untuk mendesain interior rumah sakit, ia harus rajin berkoordinasi secara intens dengan pihak medis. "Positifnya, saya punya banyak teman dokter," kekeh Anies. Dalam sebulan, Anies menangani minimal tiga proyek rata-rata senilai Rp 50 juta. Kebanyakan adalah proyek perumahan. "Paling banter, ATT pernah mendapat proyek senilai Rp 600 juta," ujar penggemar kemeja putih ini. Walaupun pemasukannya tidak besar lantaran Anies membidik segmen menengah, tapi proyeknya ini cukup untuk menggaji 13 rekan kerjanya. "Kontinyuitas proyek ini saya capai dengan susah payah," ujarnya. Anies bercerita, tahun 2004 perusahaannya sempat nyaris bangkrut gara-gara tak ada proyek yang masuk selama dua bulan berturut-turut. "Dari situ saya belajar bahwa marketing itu bukan urusan mudah," ujarnya. Padahal Anies mempunyai beberapa tenaga marketing. Untungnya, rekan-rekan kerja Anies sepakat untukbertahan walau tanpa digaji. Untuk menyelamatkan perusahaannya, Anies pun membereskan utang-utang ATT Design dengan kocek pribadi. "Lumayan waktu itu keluar Rp 200 juta," ujarnya. Agar perusahaannya keluar dari krisis, Anies pun berkonsentrasi membuat nama perusahaannya makin dikenal. "Saya banyak menulis ke media, menjadi dosen tamu di banyak universitas, sampai menjadi pembicara di banyak event desain semata-mata agar brand awareness masyarakat untuk ATT Design terbuka," ujarnya. Ternyata, cara tersebut berhasil. "Saya jadi tahu, gampangnya dapat proyek itu lahir dari banyaknya jam terbang," ujar anak keempat dari enam bersaudara ini. Tak hanya itu, Anies juga sempat merasakan pahitnya dikhianati salah satu rekan kerjanya. "Dia menghamburkan uang proyek untuk kepentingan pribadi," sesalnya. Karenanya, kini Anies sangat berhati-hati menerima rekan kerja baru. Menjadi Ketua himpunan desainer interior Totalitas Anies Walsh di dunia desain interior membuatnya terpilih menjadi Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jakarta. Selama dua tahun kepemimpinannya, Anies berhasil mengangkat citra desain interior di masyarakat. Setelah melewati pasang surut, tahun 2005 kondisi perusahaan Anies, ATT Design sudah mulai mapan. Pada tahun itu, Anies pindah kantor ke daerah Kemang, tepatnya di gedung Kemang Point. Di gedung itu Anies menyewa sebuah ruangan kecil seharga Rp 15 juta per tiga bulan. Di tempat baru ini, Anies dan adik-adiknya membangun ATT Design menjadi lebih baik. Selain mengelola usaha, salah satu tugas berat Anies adalah menjalankan tugasnya sebagai Ketua HDII Jakarta periode 2007-2009. Toh, dia mampu menjalankan tugas dan kewajibannya di organisasi tersebut dengan baik. Apa lagi sebelumnya ia telah menjabat sebagai sekretaris HDII Jakarta tahun 2001-2004. Ia pun bersyukur karena cukup punya bakat dalam memimpin. Anies mengaku belajar banyak selama menjadi ketua HDII Jakarta. Misalnya dalam hal memimpin banyak orang pintar, belajar hukum, serta belajar mengerti orang lain. Dia juga lantas fasih beberapa bahasa lokal. Sebut saja bahasa Sunda dan Jawa, bahkan dia juga cakap berbicara dalam bahasa China. "Ini hasil dari pergaulan saya," katanya. Di tangannya, nama HDII Jakarta berkibar. Ibu empat anak ini rajin membuat event di mana HDII berperan sebagai penyelenggaranya. "Dari ajang ini, HDII punya banyak kenalan industri dan dari produsen aneka barang," tuturnya. Hal ini menguntungkan HDII. Sebab, jika suatu ketika anggota HDII memerlukan pernik-pernik khusus dalam desainnya, semua kontak dari industri sudah berada di tangan Anies dan HDII. "Dengan cara tersebut, desainer interior punya bargaining power serta positioning yang bagus dengan klien," papar Anies. Dus, apapun permintaan klien bisa mereka penuhi dengan cepat. Lewat aneka acara yang diselenggarakan HDDI, animo masyarakat terhadap desain interior pun terus bertumbuh. Order pun mengalir ke anggota HDII. Profesi sebagai desainer interior pun terangkat dan tak kalah bergengsi dari profesi arsitek. "Banyak tayangan televisi dan majalah interior membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya estetika dalam kehidupannya," tutur presenter acara Home and Life Style yang tampil di Metro TV selama tujuh bulan ini. Setelah lengser sebagai ketua HDII Jakarta 27 April 2009, Anies kini bersiap membuka art workshop. Melalui art workshop ini, Anies ingin mengangkat penghasilan para perajin seni kecil melalui kolaborasi karya mereka. "Nantinya karya mereka akan disesuaikan dengan style ATT Design," ujarnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News